0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Harga Ikan Dipermainkan Tengkulak, Nelayan Sambat

ilustrasi nelayan (sumber: KKP News)

Timlo.net — Sejumlah nelayan di Desa Morodemak, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, mengeluhkan rendahnya harga lelang ikan hasil di Tempat Pelelangan Ikan setempat sehingga tidak menguntungkan nelayan.

“Selain itu, pembayarannya juga tidak kontan sehingga sangat merugikan nelayan setempat,” kata salah seorang nelayan di Desa Morodemak, Salim ketika menerima kunjungan politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang juga mantan juara dunia bulutangkis, Hariyanto Arbi saat “blusukan” untuk bersilaturahmi dengan para nelayan di Desa Morodemak, Kamis (19/4).

Menurut dia harga lelang ikan hasil tangkapan nelayan sebetulnya bisa tinggi, namun karena diduga dimonopoli oleh pedagang tertentu akhirnya harga lelang ikan selalu lebih rendah, dibandingkan dengan daerah lain.

Ia mencontohkan harga ikan tongkol satu keranjang yang biasanya bisa laku Rp 600.000, saat ini hanya laku Rp 300.000 hingga Rp 350.000.

Harapan nelayan, lanjut dia, pembeli ikan di TPI Morodemak lebih banyak agar tidak dimonopoli pedagang tertentu yang hanya mau menawar dengan harga rendah.

Sementara selama ini, kata Salim, jumlah pembelinya minim dan hasil lelang ikannya dikuasai pedagang tertentu saja.

Pembeli dari luar daerah, kata dia, enggan membeli ikan ke TPI Morodemak karena seringkali dihalang-halangi oleh oknum-oknum tengkulak lokal.

Bahkan, lanjut Salim, banyak pembeli dari luar daerah yang memperoleh intimidasi untuk tidak usah membeli ikan di TPI Morodemak.

“Kadang ada yang ban mobilnya digembesi sehingga pembeli dari luar daerah enggan datang,” ujarnya.

Permasalahan lain yang dihadapi nelayan, yakni sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi untuk melaut. Menurut mereka, solar untuk melaut sulit didapat lantaran stok SPBN diborong oleh tengkulak.

Akibatnya, nelayan harus membeli dari tengkulak dengan harga lebih mahal karena harga jual solar di SPBN biasanya Rp 5.150 per liter, menjadi naik ketika membeli di tengkulak menjadi Rp 5.800 sampai Rp 6.000 per liter. Untuk perahu berukuran 2-3 gross ton membutuhkan setidaknya 10-20 liter sekali melaut.

Kondisi tersebut, kata Presidium Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) Karman Sastro sudah berlangsung lama dan jika nelayan membeli di SPBN harus antre hingga tiga jam.

Selain itu, kata Karman Sastro yang mendampingi Hariyanto Arbi nelayan juga mengeluhkan belum didistribusikannya kartu nelayan oleh pemerintah daerah setempat.

Padahal, lanjut dia, kartu tersebut sangat dibutuhkan untuk mengakses pembelian BBM bersubsidi, gas elpiji 3 kg hingga jaminan asuransi nelayan.

Atas keluhan nelayan tersebut, Hariyanto Arbi mengaku persoalan yang dihadapi nelayan kecil ternyata cukup kompleks.

Untuk itu, kata Hariyanto, Pemerintah Pusat harus segera turun untuk menyelesaikannya.

“Tentunya kalau persoalan ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti harus mengetahuinya,” ujarnya.

Sumber : Antara

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge