0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Tingkat Literasi Menjadi Ganjalan Pengembangan Konsep Ekonomi Syariah

Penandatanganan komitmen bersama lintas stake holder untuk pengembangan ekonomi syariah di Soloraya (timlo.net/setyo pujis)

Solo – Masih rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat dianggap menjadi penyebab utama tersendatnya pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Menyikapi kondisi itu, Bank Indonesia bersama sejumlah stake holder lainnya ingin mendorong peningkatan literasi tersebut. Pasalnya, Indonesia dengan jumlah penduduk mayoritas umat muslim dianggap memiliki potensi yang cukup besar sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.

“Memang jika dibandingkan dengan industry keuangan konvensional. Pertumbuhan Industry keuangan syariah di indosnesia ini belum seberapa. Alasannya yang pertama karena persoalan literasi yang masih rendah,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah, Bank Indonesia, Anwar Bashori kepada wartawan, Kamis (19/4).

Bahkan hasil survey yang sudah dilakukan selama ini, disebutkan dia untuk tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia masih dibawah 10 persen. Hal itu disebabkan, karena wacana dan konsep ekonomi syariah belum ditanamkan sejak dini, seperti SD, SMP maupun SMA. Pengetahuan ekonomi syariah, baru banyak diajarkan setelah diperguruan tinggi.

“Itupun kebanyakan juga hanya bagi mereka yang mengambil jurusan ekonomi syariah. Karena itu, upaya peningkatan literasi ini harus terus kita galakan,” jelasnya.

Tidak hanya persoalan literasi, menurutnya konsep ekonomi syariah bukan hanya berkutat kepada industry keuangan. Tapi juga ada sertifikasi halal, baik untuk makanan, obat-obatan, komestik dan lainnya. Dan di Indonesia sendiri, upaya menggarap sektor tersebut dianggap cukup terlambat. Pasalnya, disejumlah Negara yang selama ini mayoritas umat muslimnya hanya sedikit justru sudah mampu menangkap peluang tersebut. diantaranya adalah Thailand, Jepang dan Australia.

Kendati demikian, pihaknya optimis jika potensi yang ada ini mampu dikolaborasikan dengan baik akan memiliki dampak positif untuk masyarakat secara luas. Mengingat, di Indonesia sendiri gerakan ekonomi syariah sebenarnya sudah ada sejak zaman pra kemerdekaan. Seperti yang dilakukan oleh Serikat Dagang Islam, Muhamadiyah dan lainnya.

“Kalau potensi yang ada ini dapat dikolaborasikan dengan baik, saya optimis Indonesia mampu menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah terbesar di dunia,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Bandoe Widiarto menyampaikan, untuk meningkatkan literasi keuangan itu berbagai upaya telah dilakukan. Diantaranya melakukan edukasi kepada sejumlah lembaga pendidikan formal dan pendampingan ekonomi kepada pesantren melalui produk yang dihasilkan.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge