0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Setnov Baca Puisi ‘Di Kolong Meja’

Setya Novanto (sumber: dpr.go.id)

Timlo.net – Terdakwa korupsi pengadaan e-KTP, Setya Novanto (Setnov) membacakan nota pembelaan atau pledoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat (13/4). Setnov sempat membaca puisi karya Linda Djalil sebelum mengakhiri pembacaan pledoi.

“Mohon maaf yang mulia sebelum kami tutup, biasa kami di mana-mana di seluruh Indonesia suka baca puisi, saya mohon izin untuk baca puisi satu menit. Ini puisi dari Linda Djalil untuk Mas Novanto,” kata Setnov.

Berikut puisi yang dibacakan Novanto dengan judul “Di Kolong Meja”.

di kolong meja ada debu yang belum tersapu
karena pembantu sering pura pura tak tahu
di kolong meja ada biangnya debu
yang memang sengaja tak disapu
bersembunyi berlama-lama karena takut dakwaan
seru melintas membebani bahu
di kolong meja tersimpan cerita seorang anak manusia menggapai hidup
gigih dari hari ke hari meraih ilmu dalam keterbatasan untuk cita-cita kelak yang bukan semu
tanpa lelah dan malu bersama debu menghirup udara kelabu
di kolong meja muncul cerita sukses anak manusia yang semula bersahaja
akhirnya bisa diikuti siapa saja karena cerdas caranya bekerja
di kolong meja ada lantai yang mulus tanpa cela
ada pula yang terjal bergelombang siap menganga
menghadang segala cita-cita…

apabila ada kesalahan membahana
kolong meja siap membelah menerkam tanpa bertanya
bahwa sesungguhnya ada berbagai sosok yang sepatutnya jadi sasaran
di kolong meja ada pecundang yang bersembunyi
sembari cuci tangan cuci kaki cuci muka cuci warisan kesalahan
apakah mereka akan senantiasa di sana dengan mental banci berlumur keringat ketakutan dan sesekali terbahak melihat teman sebagai korban menjadi tontonan??

Sebelumnya, mantan Ketua DPR Setya. Novanto dituntut 16 tahun penjara ditambah denda Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan karena dinilai terbukti melakukan tindak pidana korupsi pengadaan e-KTP tahun anggaran 2011-2012.

Selain hukuman badan, jaksa KPK juga menuntut agar Setya Novanto membayar pidana pengganti senilai 7,3 juta dolar AS dikurangi Rp5 miliar yang sudah dikembalikan subsider 3 tahun kurungan dan pencabutan hak politik selama 5 tahun setelah menyelesaikan hukuman pokoknya.

Dalam perkara ini Setnov diduga menerima 7,3 juta dolar AS dan jam tangan Richard Mille senilai 135 ribu dolar AS dari proyek e-KTP. Setya Novanto menerima uang tersebut melalui mantan direktur PT Murakabi sekaligus keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, maupun rekan Setnov dan juga pemilik OEM Investmen Pte.LTd dan Delta Energy Pte.Lte yang berada di Singapura, Made Oka Masagung.

Sedangkan jam tangan diterima Setnov dari pengusaha Andi Agustinus dan direktur PT Biomorf Lone Indonesia Johannes Marliem sebagai bagian dari kompensasi karena Setnov telah membantu memperlancar proses penganggaran. Total kerugian negara akibat proyek tersebut mencapai Rp2,3 triliun.

Sumber: Antara

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge