0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Enam WNI Dibebaskan Setelah Enam Bulan Disandera Milisi Libya

Retno Marsudi (sumber: Kementerian Luar Negeri)

Timlo.net – Enam warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok milisi di Benghazi, Libya berhasil dibebaskan. Keenamnya dipulangkan ke tanah air.

“Dengan ini saya serahkan teman-teman keenam ABK WNI kepada keluarga,” kata Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi di Jakarta, Senin (2/4).

Para ABK, yang bekerja di kapal ikan Salvatore 6 berbendera Malta tersebut diculik oleh kelompok milisi Libya di perairan Benghazi, berjarak sekitar 72 mil dari garis pantai Libya pada 23 September 2017.

Kemlu RI menerima informasi terhadap penculikan ABK tersebut lima hari setelah penculikan terjadi. Sejak saat itu Kemlu melakukan kontak termasuk dengan pemilik kapal.

“Proses pembebasannya tidak mudah karena ada masalah politik di Benghazi dan Tripoli,” kata Menlu.

Karena menjadi wilayah konflik, kompleksitas pembebasan para sandera tidak mudah sama sekali, lanjut menlu.

Tim pembebasan dari direktorat Perlindungan WNI Kemlu, BIN dan KBRI Tripoli, terlibat dalam upaya pembebasan keenam ABK tersebut.

Setelah melakukan upaya pendekatan diplomasi, pada 27 Maret dilakukan serah terima dari kelompok bersenjata di pelabuhan ikan di Benghazi.

“Upaya pendekatan yang intensif dilakukan selama enam bulan terakhir dengan menekankan bahwa Indonesia dekat dengan Libya. Bahwa Indonesia tidak berpihak di dalam konflik Libya,” kata Direktur Perlindungan WNI Lalu Muhammad Iqbal.

Kemudian Indonesia dan Libya pada 1996 memediasi perdamaian di Filipina Selatan. Upaya diplomasi semacam itu lah yang dikedepankan oleh Kemlu.

Keenam ABK WNI tersebut adalah Rony Wiliam asal Jakarta, Joko Riyadi dari Blitar, dan empat lainnya dari Tegal yaitu Hariyanto, Saifudin, Muhammad Abudi, dan Waskita.

Ketika mereka ditangkap oleh kelompok milisi tersebut, seluruh isi kapal dirampas mulai alat navigasi, komunikasi, bahkan lemari es dan barang-barang pribadi mereka.

Baru pada Desember tahun lalu, pihak KBRI di Tripoli setelah melakukan upaya pendekatan berhasil berkomunikasi dengan para ABK yang disandera untuk memastikan kondisi mereka sehingga pemerintah bisa mengatur skenario pembebasan mereka di Benghazi.

Motif penculikannya pun sedikit bersifat politis karena kapal yang mereka cegat berbendera Malta. Dketahui Kelompok milisi tersebut diketahui tidak memiliki hubungan yang bagus dengan negara tersebut.

“Kami ucapkan terima kasih sehingga kami bisa dipertemukan kembali dengan keluarga kami,” kata salah satu ABK yang disandera, Roni William.

Selama kurang lebih enam bulan disandera di salah satu pelabuhan di Benghazi, Roni dan lima ABK lainnya juga menjadi saksi bagaimana konflik bersenjata yang terjadi di Libya kala itu.

“Kami melihat pesawat sangat dekat karena letaknya hanya satu atau dua kilometer, kadang peluru ada yang nyasar,” kata Roni.

Selain enam ABK WNI, kelompok milisi juga sempat menahan kapten kapal Salvatore 6 berkebangsaan Italia.

“Namun karena masalah kesehatan, sang kapten kapal dibebaskan lebih awal,” kata Roni.

Sementara itu, Kemlu RI berupaya untuk memulihkan hak-hak para ABK tersebut dengan berkomunikasi dengan perusahaan pemilik kapal di Malta.

Sumber: Antara

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge