0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Polda Jateng Pelototi Penyebar Hoax dan Ujaran Kebencian

ilustrasi (sumber: Pixabay)

Solo — Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah terus mengawasi penggunaan sosial media (medsos) yang digunakan untuk penyebaran hoax maupun ujaran kebencian. Pengawasan dilakukan secara simultan bersama dengan tim cyber dari Mabes Polri.

“Kita terus melakukan koordinasi, agar penanganan akun-akun menyimpang (yang digunakan untuk menyebar hoax dan ujaran kebencian-red) dapat diberantas,” terang Kanit IV Subdit Eksus Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah, Kompol Joko Lelono disela kegiatan Sarasehan Kebangsaan yang diadakan di Kusuma Sahid Jaya Hotel (KSPH) baru-baru ini.

Dalam menghadapi penyebar informasi menyimpang itu, kata Joko, pihaknya harus memilah dan memilih sekaligus mengkategorikan jenis medsos yang “dihadapi” tersebut. Ada beberapa kategori mulai dari medsos yang digunakan sebagai penyebaran yakni menggunakan akun asli, akun abal-abal hingga pembajakan. Pelaku dibalik penyebaran itu juga memiliki tujuan berbeda-beda mulai dari unsur kriminal murni, mengungkapkan perasaan atau curhat hingga kelompok terorganisir yang memiliki tujuan tertentu.

“Jadi harus dikategorikan terlebih dahulu. Ada kasus, akun milik seseorang dibajak oleh pelaku penyebar hoax dan ujaran kebencian. Artinya, pemilik akun harus segera bertindak dan tidak melakukan pembiaran sehingga mengakibatkan salah paham,” kata Joko.

Sejumlah tindakan yang dilakukan oleh pihak Kepolisian dalam menghadapi penyimpangan penggunaan Sosmed, ungkap Joko mulai dari pemblokiran akun hingga pelacakan terhadap pelaku. Jika dilakukan pemblokiran akun, bukan tidak mungkin pelaku akan membuat akun yang lain dengan tujuan yang sama. Sedangkan, untuk menangkap pelaku bukanlah perkara mudah. Apalagi, banyak kasus serupa yang ditangani terkait penyebaran hoax dan ujaran kebencian tersebut.

“Maka dar itu, kita terus berkoordinasi baik dengan Mabes maupun Kepolisian daerah. Disisi lain, bobot kasus juga menjadi pertimbangan yang menjadi perhatian,” kata Joko.

Pihaknya menghimbau kepada masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan sosial media. Jangan sampai termakan informasi hoax atau bahkan menjadi “agen” penyebar informasi ujaran kebencian.

“Gunakan sosmen dengan baik dan benar. Jika mendapat informasi yang belum pasti kebenarannya, lebih baik jangan ikut nge share. Telusuri dulu kebenarannya,” himbau Joko.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge