0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Buntut Kekecewaan Orang Tua Murid, Berdiri SSB Tandingan

Konflik SSB sempat ditengahi Polres Sragen (timlo.net/agung widodo)

Sragen – Kisruh dalam pembinaan generasi untuk mencetak pemain sepakbola di Sragen kelompok usia dini masih berlanjut. Kelompok yang tidak puas dengan manajemen Sekolah Sepakbola (SSB) Indonesia Muda (IM) nekat mendirikan SSB tandingan dengan nama I’M.

”Sebenarnya tidak ada dualisme, Ini berdiri karena ketidakpercayaan pada oknum pengurus SSB yang sudah ada sebelumnya. Nama, logo dan kepengurusan sudah berbeda,” kata Ketua IM Sukowati, Arief Wijanarko, Jumat (23/3).

Dia menyampaikan, SSB dengan nama I’M Sukowati muncul lantaran kekecewaan para orang tua siswa dengan oknum dalam SSB IM. SSB I’M Sukowati ini berdiri bukan bertujuan untuk provit. Saat ini SSB tersebut masih dalam proses mengurus badan hukum.

Arief menyatakan, sempat tersiar kabar ada dualisme kepengurusan. Namun hal ini dibantahnya lantaran bila dilihat dari nama maupun logo sudah jauh berbeda.

Beberapa permasalahan seperti peran pelatih yang dikesampingkan. Selain itu adanya kekecewaan transparansi anggaran. Dia menyebutkan hadiah dari pertandingan masuk ke Kas SSB, padahal sebagian pembiayaan anak dipenuhi wali murid.

Meski baru berdiri pada 11 Maret 2018 lalu, namun sekarang sudah ada sekitar seratus siswa dan mewakili setiap kelompok umur. Pihaknya menyampaikan sudah mengurus ijin penggunaan lapangan Stadion Taruna di Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perkim).

Sebelumnya, pada Kamis (22/3) memang sempat terjadi ketengangan terkait SSB tersebut sampai melibatkan pengamanan dari Polres Sragendi Stadion Taruna.

Konflik ini akibat pemakaian nama IM meski ditambahi apostrof atau koma diatas. Konflik coba ditengahi pendiri SSB IM Sragen Hartono Mbing. Pihaknya berharap pemakaian nama IM harus sesuai ketentuan AD-ART organisasi.

”Saya berharap mereka bersatu kembali, dalam wadah SSB IM Sragen yang sah, agar pembinaan pemain pemain muda ini bisa lebih berprestasi, tanpa ada kekisruhan antar orang tua pemain,” ujar Hartono.

Kabag Ops Polres Sragen AKP Yohanes Trisnanto menyampaikan konflik internal mereka diselesaikan dengan damai. Namun untuk tiap SSB tetap berjalan sendiri sendiri.

”Kita akan atur mereka, kedua kubu bisa memakai lapangan stadion taruna ini untuk berlatih. Meski dalam hari yang berbeda. Mudah mudahan persoalan ini cepat selesai , kasihan anak anak itu terganggu dalam latihannya,’ tandas AKP Yohanes Trisnanto.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge