0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Produsen Tembakau Narkoba Ditangkap

ilustrasi (sumber: pxhere.com)

Timlo.net – Polisi menangkap dua produsen tembakau narkoba di Bali. Kasus ini terungkap atas koordinasi Polri dan Bea Cukai, yang bermula dari informasi pengiriman paket narkoba.

“Tersangka memproduksi narkoba jenis cannabinoid sintetis yang dicampur dengan tembakau biasa,” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Daniyanto dalam pesan singkat di Jakarta, Kamis (22/3).

Pada Senin (19/3), paket pengiriman barang diduga berisi narkotika cannabinoid sintetis berbentuk 5-flouro ADB berbobot 500 gram tiba di Denpasar.

Kemudian penyidik mendatangi alamat penerima yang tertera pada paket dan menangkap tersangka Krisna Andika Putra (20).

Tersangka Krisna berperan sebagai penerima paket dan produsen narkoba dalam bentuk serbuk cannabinoid sintesis untuk bahan pembuatan tembakau narkoba dari Cina.

Selanjutnya penyidik menggeledah rumah tersangka di Jalan Tunjung Sari Perum Pesona Paramita 2 Denpasar. Rumah tersebut dijadikan sebagai “home industry” ganja sintesis.

“Ditemukan bahan-bahan pembuatan ganja sintesis,” katanya.

Penyidik juga menangkap tersangka Anak Agung Ekananda (24) yang perannya turut serta memproduksi ganja sintetis dengan tembakau.

Dari hasil penyidikan diketahui bahwa serbuk ganja sintesis ini berasal dari Cina. Serbuk ini merupakan bahan campuran tembakau.

Selain itu juga diketahui bahwa tersangka menjual barang tersebut secara daring melalui aplikasi pesan BBM, Line dan media sosial Instagram.

Eko memaparkan bahwa peredaran ganja sintetis pernah ditemukan pada tahun 2015 dan 2016 dengan nama kemasan jual tembakau Hanoman dan tembakau Ganesha.

Namun senyawa ganja sintetis tersebut berbeda dengan senyawa ganja sintetis pada kasus ini.

Penggunaan ganja sintesis sangat berbahaya bagi penggunanya karena bisa menyebabkan gagal nafas, kebiruan pada kulit, depresi, diare, pusing, mengantuk, mual, muntah, ruam hingga kematian.

“5F-ADB adalah salah satu senyawa sintetik cannabinoid yang paling berbahaya,” katanya.

Sumber: Antara

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge