0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Ini Kata Para Pakar Soal De Tjolomadoe

Jumpa pers 'Agenda De Tjolomadoe'. (foto: Rozaq) ()

Karanganyar — Butuh riset dengan metode rumit membangun kembali eks pabrik gula Colomadu yang sekarang bertransformasi menjadi De Tjolomadoe. Para pakar menceritakan pengalamannya mewujudkan mega proyek ini.

“Awalnya pada 2015, mengkaji feasibility study (FS) termasuk kajian cagar budaya. Pada saat itu bangunan bekas pabrik gula ini suram. Hancur di sana sini. Tantangan bagi kami untuk mengeksplor. Ternyata muncul harta terpendam, sehingga pada 2016 mulai memperbaiki,” kata GM Konstruksi PT Sinergi Colomadu, Edison Suardi dalam konferensi pers agenda De Tjolomadoe di Karanganyar, Selasa (20/3).

FS dilakukan dan merujuk pada kajian pemakaian terbaik bangunan itu. Bangunan 1,3 hektare di atas lahan 6,4 hektare direvitalisasi dengan tetap mempertahankan nilai sejarah dan manfaat komersil.

Kini, venue tersebut tercipta dengan penamaan sesuai aslinya seperti stasiun gilingan yang difungsikan museum pabrik gula, stasiun ketelan sebagai area food and baverage, stasiun penguapan sebagai arena arcade, stasiun karbonatasi sebagai area art and craft, besali cafe, tjolomadoe hall dan sarcara hall.

Historian Universitas Pancasila, Yuke Ardhiati mengatakan penerapan konsep adaptive reuse bangunan cagar budaya dinilai paling tepat pada revitalisasi eks pabrik gula Colomadu. Artinya, menonjolkan karakter heritage dengan penambahan peran baru dari semula pabrik arsitektur Eropa menjadi art gecko.

“Ada perubahan berarti sejak dibangun 1891 kemudian difungsikan menjadi pabrik gula pada 1928 dan sekarang direvitalisasi pada 2018. Yakni mengembalikan dari art gecko menjadi adaptive reuse,” katanya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge