0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Mahasiswa UNS Perkenalkan Bank Sampah

Warga Desa Karungan, Kecamatan Plupuh, Sragen mengumpulkan sampah di rumah salah satu warga. (foto: Agung)

Sragen – Sembilan mahasiswa dari berbagai fakultas UNS Solo melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Karungan, Kecamatan Plupuh, Sragen. Selama sebulan mengabdi di desa, mereka menggali potensi desa yang masih masih bisa digali. Termasuk sampah rumah tangga yang memiliki nilai ekonomis.

”Ada nilai ekonomis, sampah bisa dimanfaatkan. Selain itu pola pengelolaan lingkungan desa bisa menjadi lebih baik dengan kesadaran memanfaatkan sampah,” kata salah satu mahasiswa, Juan Aristi dari Fakultas Teknik UNS, belum lama ini.

Kehadiran mereka bukan sekadar tugas kampus untuk mendapatkan nilai mata kuliah. Namun lebih dari itu, sebagai generasi penerus bangsa, mereka meninggalkan jejak positif untuk desa.

Salah satunya mengenalkan dan menyiapkan sistem Bank Sampah untuk warga desa. Di samping produk-produk lainnya yang bisa dimanfaatkan desa.

Juan Aristi menyampaikan, dengan adanya bank sampah dapat lebih membantu perekonomian desa. Jika sebelumnya sampah rumah tangga yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan dibuang begitu saja. Namun dengan bank sampah terdapat sistem sehingga sampah yang ada punya nilai ekonomis untuk menambah penghasilan.

Senada dengan rekannya, Rakandary Widyanata dari fakultas FISIP menuturkan, ke depan pendirian bank sampah akan dikelola pemerintah desa. Masyarakat bisa memilah sendiri sampah yang disetorkan.

”Yang dulu dibuang begitu saja, sekarang bisa ditampung dengan syarat dipilah sendiri,” ujarnya.

Dia menyampaikan, jika digarap secara tepat, sistem ini bisa diteruskan sebagai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Hanya saja saat ini masih baru terlaksana di RT 05 dan barang masih diikumpulkan di Rumah milik Ketua RT.

Dia menjelaskan, warga yang terdaftar akan mendapat buku rekening pencatatan setoran sampah. Buku tabungan tersebut tidak serta merta mendapatkan imbal balik hasil berupa uang. Namun ditulis di buku tabungan dan bisa dirupiahkan.

Sementara Kepala Desa (Kades) Karungan, Joko Sunarso menyampaikan, sementara ini ada 14 RT, namun yang sudah terbentuk kepengurusan dan penampungan di RT 05.

”Pengembangan ke depan tidak mudah juga karena karakter masyarakat desa masih banyak tidak peduli dengan sampah,” terangnya.

Joko menyampaikan, hal ini berpotensi menjadi salah satu BUMDes. Jika sebagian besar RT di Desa Karungan siap dan mengadopsi sistem yang sama. Hanya saja saat ini BUMDes masih belum siap.

”Jadi memungkinkan dikelola BUMDes, tidak langsung ke pengusaha rosok,” jelas Joko.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge