0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

“Luar Biasa”, Film Pendek Angkat Pelajar Tunanetra Boyolali

Seorang pelajar SMA penyandang tunanetra di YPALB Boyolali diangkat dalam film pendek berjudul luar biasa. Dok Instagram Bagus M Maruf (timlo.net/a wijaya)

Klaten — Berawal dari tugas kuliah, Erika Dyah Muftiarini mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memotret kehidupan seorang pelajar SMA penyandang tunanetra di Yayasan Pendidikan Anak Luar Biasa (YPALB) Cepogo, Boyolali melalui film pendek. Film dokumenter itu berjudul ‘Luar Biasa’.

“Awalnya ingin mengangkat perjuangan guru YPALB yang fasilitasnya dianggap minim. Tapi ternyata malah ketemu siswanya yang bernama Joko Supriyanto,” kata Erika di sela pemutaran film dan diskusi di pendopo Rumah Dokumenter Klaten, Sabtu (17/3).

Dalam proses kreatifnya, Erika mengikuti keseharian Joko Supriyanto di rumah maupun di sekolahnya belajar. Adegan demi adegan Joko mahir bermain alat musik kendang, memelihara burung merpati, mengutak-atik hingga mengendarai sepeda motor disajikan. Meskipun dia mengalami kebutaan sejak lahir.

“Saya khawatir saat sudah lulus sekolah, sudah takdir Tuhan dipisahkan dari orangtua, saya mau kerja apa? Padahal yang orang normal, kuliah sampai S9 saja kerjanya belum jelas,” ucap Joko dalam salah satu adegan.

Pemilik rumah produksi Rumah Dokumenter, Tonny Trimarsanto berkomentar, jika kebanyakan tema disabilitas menonjolkan penderitaan subyek, film pendek ‘Luar Biasa’ justru mengangkat sisi postif atau optimisme. Ia pun mengingatkan para pembuat film dokumenter tentang pentingnya menjalin kedekatan dengan subyek film.

“Pembuat film tidak bisa bisa mendesain sebuah konflik layaknya film cerita. Sehingga aksesbilitas sangat penting dalam rangka riset film yang hendak dibuat. Pasalnya, sejauh mana ketika film itu jadi bisa menarik simpati atau empati dari penonton,” ujar sineas peraih Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2017.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge