0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Kisah Buruh Tani Ponorogo Mengais Rupiah di Wonogiri

Kades Boto, Baturetno, Bambang Edy Suroso (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Kisah buruh tani di wilayah Kecamatan Baturetno, Wonogiri cukup unik. Kalangan petani di Desa Boto ini ternyata sejak puluhan tahun silam telah menggunakan jasa warga asal Jawa Timur, tepatnya Kabupaten Ponorogo.

Bahkan hampir dapat dipastikan setiap menjelang musim tanam, baik tanam padi atau palawija, para buruh tani yang terdiri dari kaum muda dan sudah berumur itu datang secara berkelompok ke desa paling ujung utara di Kecamatan Baturetno tersebut

“Kalau itu sudah puluhan tahun. Wong saya sejak masih muda para buruh tani asal Ponorogo itu sudah ada dan mencari nafkah di desa ini. Saat ini ada beberapa orang yang menjadi langgganan kami sudah bercucu enam, bahkan sang cucu pun kini ikut buruh tani di sini,” papar Kepala Desa Boto, Baturetno, Bambang Edy Suroso saat dikonfirmasib Timlo.net, Selasa (13/3).

Menurut dia, luas lahan pasang surut Waduk Gajah Mungkur di Kecamatan Baturetno membuat buruh tani setempat kewalahan. Namun justru hal inilah yang menjadi magnet sekaligus  harapan bagi puluhan warga  asal Desa Watubonang, Badegan, Ponorogo,Jawa Timur itu. Tak hanya dirinya saja yang mempergunakan jasa para buruh itu,namun kalangan petani di des anya pun menggunakan bahkan sejumlah petani dari desa lain pun turut serta.

“Ya, mereka bekerja di sawah. Mulai dari mempersiapkan lahan hingga panen. Kerja apa saja mereka itu pasti siap, cekatan,” kata dia.

Selama bekerja di desa tersebut, kata bapak beranak empat ini, para buruh asal Ponorogo menginap di rumah-rumah warga setempat. Bahkan, sebuah rumah peninggalan orangtuanya pun ia pergunakan untuk menampung  mereka. Selain di rumahnya, ada juga buruh yang menempati rumah warga lantaran rumah itu ditinggal penghuninya merantau. Soal upah, kata Kades, jauh lebih murah dibandingkan upah tenaga lokal.

“Mereka bekerja mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB dengan imbalan Rp 60 ribu,t api kita masih memberi rokok dan makan dua kali,” bebernya.

Kades menambahkan,saking lamanya para buruh tani itu bekerja di desanya, hubungan kekeluargaan pun terjalin. Dirinya pun mengaku tidak memandang mereka layaknya buruh, namun selama ini mereka ia anggap seperti keluarga sendiri.

“Paling sebulan sekali mereka pulang ke kampung halamannya lalu seminggu kemudian balik ke sini. Terkadang ada beberapa pemuda datang ke sini meminta pekerjaan, padahal belum ada, ya sementara saya tampung di sini,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge