0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Puan: Pemerintah Pertimbangkan Prof Sardjito Jadi Pahlawan Nasional

Menko PMK Puan Maharani (dok.timlo.net/awijaya)

Timlo.net — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengatakan, pemerintah akan mempertimbangkan usulan agar Profesor Dr Sardjito ditetapkan menjadi pahlawan nasional.

“Kami ada aturan dan mekanisme apakah semua persyaratan untuk menjadi pahlawan itu selesai atau belum. Kalau belum akan kami sampaikan,” kata Puan, di sela Seminar Nasional dalam Rangka Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito, MPH,” di Jakarta, Selasa (27/2).

Pemerintah, kata Menteri Puana, akan melakukan pengecekan dan penelitian atas usulan Sardjito menjadi pahlawan nasional sesuai persyaratan.

“Pemerintah mengecek apakah semua persyaratan sudah cukup atau harus dilengkapi. Jejak sejarah harus dilengkapi apakah benar atau ada saksi sejarah bahwa hal-hal dimaksud telah dilakukan,” kata dia.

Kendati demikian, secara selintas Puan berpandangan jasa Sardjito sangat besar maka wajar jika ada usulan agar mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII) itu diusulkan menjadi pahlawan nasional.

Menurut dia, nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan Sardjito patut diapresiasi dan diteruskan. Hal itu sejalan dengan pemikiran Bung Karno yang menyatakan agar orang Indonesia jangan sekali-kali melupakan sejarah.

“Jangan sampai kita menjadi bangsa yang melupakan sejarah dengan tidak mengenal pahlawannya yang sudah berjasa untuk bangsa,” kata dia.

Puan mengatakan Sardjito merupakan seorang akademisi, dokter, budayawan, aktivis kemanusiaan, pejuang kemerdekaan dan peran positif lainnya.

Di bidang pendidikan, dia mengatakan Sardjito sangat berperan dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia.

Ketika terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, Sardjito menyelamatkan aset pendidikan dengan memindahkan Institut Pasteur ke Klaten dengan mempertaruhkan nyawanya.

Sebagai budayawan, kata dia, Sardjito merupakan peneliti pahatan Candi Borobudur dan hasil penelitiannya disampaikan dalam kongres internasional di Manila pada tahun 1953 yang membuka mata dunia tentang tingginya peradaban di Indonesia pada masa lalu.

Selanjutnya, pada 1991 Borobudur dinobatkan sebagai warisan dunia.

“Sardjito punya jiwa pengabdian yang tidak memikirkan untuk diri sendiri, melainkan untuk keilmuan, masyarakat, negara dan bangsa. Sifat keteladanan inilah yang perlu dicontoh oleh kita semua, generasi penerus bangsa,” kata dia.

Sumber: Antara

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge