0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Apa yang Harus Anda Lakukan Bila Membuat Orang Marah?

Marah. (pastordaveonline.org)

Timlo.net—Peter Bregman, pelatih kepemimpinan untuk perorangan dan perusahaan di Amerika Serikat (AS) membagikan tips dari pengalaman pribadinya tentang kemarahan. Dalam artikel yang dia tulis dalam Psychology Today, dia menjelaskan bagaimana kita harus bersikap jika tindakan atau perkataan kita menyebabkan orang lain marah.

“Saya terlambat. Istri saya Eleanor dan saya setuju bertemu di restoran untuk makan malam pada pukul 19:00 dan sekarang sudah pukul 19:30. Saya punya alasan yang baik karena memang ada pertemuan dengan klien yang molor. Begitu selesai saya segera pergi ke restoran secepat mungkin,” terang Peter.

Saat tiba di restoran, dia meminta maaf kepada sang istri. “Aku tidak bermaksud telat,” ujar Peter setelah minta maaf.

Eleanor pun menjawab, “Kamu tidak pernah berniat telat.”

“Maaf, tapi itu tidak bisa dihindari,” jawab Peter membela diri. Dia menjelaskan alasan terlambat karena pertemuan dengan kliennya. Tapi penjelasan itu tidak membuat kemarahan sang istri reda, justru memperburuk situasi. Sekarang giliran Peter yang marah. Suasana makan malam saat itu tentunya tidak menyenangkan.

Peristiwa yang dialami Peter tentunya pernah kita alami. Peter menceritakan kisah itu kepada temannya, Ken Hardy, seorang profesor terapi keluarga. Ken menjelaskan kenapa reaksi dan cara Peter menangani kemarahan sang istri justru memperburuk situasi.

“Kamu terjebak dalam sudut pandangmu. Kamu tidak bermaksud untuk terlambat. Tapi bukan itu intinya. Intinya kamu terlambat. Intinya—dan itu yang penting dalam komunikasimu—bagaimana keterlambatanmu mempengaruhi Eleanor,” terang Ken.

Dengan kata lain, saat kita membuat orang lain marah, kita berusaha meredakan kemarahan orang itu dengan menjelaskan niat kita. Tapi kita tidak berfokus pada akibat yang dirasakan oleh orang yang kita buat marah. Pada akhirnya, kedua belah pihak merasa diacuhkan, disalahpahami dan bertambah marah.

Perbedaan antara niat dan akibat itu seringkali memicu perselisihan. Saat kita membuat orang lain marah, niat kita atau tindakan kita tidaklah penting untuk dirinya. Tapi akibat yang dirasakan sehingga orang lain marah yang penting.

Lantas bagaimana solusi sederhananya? Saat Anda membuat orang lain marah, tidak masalah siapa yang benar. Mulailah percakapan dengan mengakui jika tindakan Anda membuat orang lain marah. Janganlah berusaha menjelaskan niat Anda terlebih dulu.

Lantas bagaimana jika Anda merasa jika tindakan Anda benar dan orang lain tidak berhak marah? Untuk saat ini, hal itu juga tidaklah penting. Karena Anda tidak berusaha membuat orang itu setuju dengan Anda. Tapi Anda ingin memahami dan meredakan amarahnya.

Misalnya dalam pertengkaran antara Peter dan Eleanor. Dia merubah caranya bicara. “Aku lihat kamu marah. Kamu sudah menunggu di sini selama 30 menit dan itu pasti menjengkelkan. Dan ini bukanlah yang pertama. Juga, seharusnya karena pertemuan dengan klien molor, bukan berarti aku berhak terlambat. Aku minta maaf karena kamu harus menunggu begitu lama,” ujar Peter.

Yang dilakukan Peter adalah mengakui dampak keterlambatannya pada Eleanor sehingga sang istri marah. Hal ini penting untuk menjaga hubungan. Ken menjelaskan, “Jika realitas yang dialami seseorang, dalam pandangan mereka, diabaikan, terus apa alasannya mereka tetap mempertahankan hubungan itu?”

Hal ini tidaklah mudah karena perlawanan emosional kita. Orang biasanya hanya berfokus pada sudut pandang dan masalah mereka sendiri. Mereka seringkali sulit mengakui sudut pandang dan masalah orang lain. Lebih-lebih jika orang itu melakukannya sembari marah-marah. Tentu saja wajar jika kita merasa perlu membela diri.

Tapi pembelaan diri yang biasanya dilakukan justru membuat masalah bertambah parah. Salah satu trik yang disarankan Peter saat ada orang lain yang marah pada kita, bayangkan jika orang itu marah pada orang lain. Dengan kata lain, bayangkan jika orang yang bersangkutan itu sedang bercerita jika dia marah pada orang lain. Bagaimana sikap kita? Kita akan mendengarkan dan mengakui jika orang itu marah. Begitu orang itu merasa dilihat, didengar dan dipahami, kita akan punya kesempatan untuk menjelaskan niat atau tindakan kita.

 

 

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge