0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Opera Kolosal Adeging Kutha Solo, Pertunjukan Sarat Nilai Sejarah

Perhelatan Opera Kolosal Adeging Kutha Solo (timlo.net/achmad khalik)

Solo — Gelora semangat pertempuran merebut Keraton Kartasura membara dari para masyarakat dan prajurit Keraton. Akan tetapi, Keraton yang terletak di sisi barat Kota Solo tersebut telah porak-poranda dan tidak dapat digunakan kembali.

Inilah secuil kisah dari pertunjukan Opera Kolosal Adeging Kutha Solo yang dihelat di Jalan Jendral Sudirman (Jensud), Minggu (18/2) pagi.

Dengan kehancuran Keraton Kartasura tersebut, Pakubuwono II berinisiatif untuk memindahkan Keraton di Desa Solo. Bukan hal mudah, untuk mendirikan Keraton di tanah yang awalnya merupakan kawasan rawa tersebut. Akan tetapi, dengan bantuan Ki Ageng Solo yang dikenal sakti mandraguna dirinya mampu membendung sumber air yang terus keluar membanjiri kawasan itu.

Hingga akhirnya setelah tiga tahun mengungsi di Kawasan Ponorogo, Jawa Timur, Pakubuwono II akhirnya kembali menduduki tahta di Keraton Solo tahun 1745.

“Melalui pertunjukan kolosal ini, masyarakat Kota Solo diharapkan tahu dan mengerti akan sejarah dan awal mula berdirinya Kota Solo,” kata Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo.

Pertunjukan Kolosal Adeging Kutha Solo melibatkan 200an penari profesional. Tak hanya itu, pertunjukan yang disaksikan ribuan warga Solo ini juga sarat ajakan kepada masyarakat untuk turut serta berpartisipasi memajukan kota yang telah berusia 273 tahun. Dengan turut sertanya masyarakat, maka pembangunan dan kesejahteraan warga Kota Solo akan terdongkrak dengan baik.

“Jangan dibebankan kepada pemerintah semata. Ayo, bersama-sama kita berikan yang terbaik untuk kemajuan Kota Solo,” kata Walikota.

Selain Opera Kolosal Adeging Kutha Solo, rangkaian peringatan HUT Kota Solo ke273 juga dimeriahkan dengan Kirab Boyong Kedhaton di Kawasan Jalan Slamet Riyadi.

Salah seorang warga, Yuni (25) mengaku, tontonan yang diusung sarat akan nilai budaya. Dirinya mengapresiasi pertunjukan yang mengenalkan sejarah berdirinya Kota Solo tersebut.

“Bagus, menyisipkan pesan sejarah untum edukasi masyarakat,” kata warga Jajar, Laweyan, Solo tersebut.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge