0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Ini Pengakuan Tersangka Penganiaya Balita di Kamar Hotel

Polisi tangani kasus penganuayaan Balita di kamar hotel (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Tersangka penganiayaan terhadap Balita berinisal RP (4) mengaku bahwa dirinya kesal lantaran anak tirinya tersebut nakal dan sering buang air besar (BAB) sembarangan. Selain itu dirinya juga kesal lantaran RP tak mau ditinggal di kamar hotel untuk merayakan Imlek.

“Dia itu sering BAB sembarangan, kadang dilempar-lempar begitu. Nakal anaknya,” ungkap salah seorang tersangka, Dedi Loe Wie Wie, Sabtu (17/2).

Dedi mengaku bahwa RP adalah anak tiri, dari istri siri-nya Maria. Dedi dan Maria berhubungan sejak delapan tahun yang lalu. Kendati begitu Dedi dan Maria tak mampu menunjukkan surat cerai dari suami pertamanya.”Anak itu anaknya Maria dengan suaminya. Sejak kecil saya rawat bersama dengan Maria,” ungkap dia.

Pria yang merupakan warga Kp Krendang RT 01 RW 07 Duri Utara, Tambora, Jakarta Barat ini juga mengatakan bahwa anak RP tak diterima oleh suami Maria yang sah. Bahkan RP sering di siksa saat masih berada di Kalimantan bersama dengan ayah kandungnya.

“Dia juga sering disiksa oleh ayah kandungnya,” katanya.

Dedi mengaku bahwa bukan dirinya yang mengikat dan menyumpal mulut korban. Melainkan tersangka lain yang juga merupakan adik kandung Dedi yakni Iwan Winardi (22).

“Saya hanya nyuruh, yang mengikat Iwan,” kata dia.

Sementara menurut pihak kepolisian, pada saat ditemukan, Jumat (16/2) oleh pihak kepolisian, kondisi RP disumpal lakban pada bagian mulut dan kaki serta tangan terikat tali rafia. Kondisi korban juga sangat mengenaskan lantaran tak diberi makan selama tiga hari.

“Waktu itu saya bawa makanan, saya beri makan itu lahap sekali, saat ditanya selama di hotel tidak diberi makan,” kata Kapolsek Banjarsari, Kompol I Komang Sarjana.

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan ibu kandung P, Maria yang diduga mengetahui kejadian tersebut masih diperiksa sebagai saksi.

Dari lokasi ditemukan barang bukti, yakni pakaian korban, tali rafia warna merah yang digunakan untuk mengikat korban, dan lakban yang digunakan untuk menutup mulut korban.

Pelaku dijerat dengan Pasal 77 UU no 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Mereka diancam hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge