0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Gelar Guest Lecture, Unisri Hadirkan Pakar TI Malaysia

Prof Dr Shahruiniza Musa (tengah) saat berbicara di depan dosen dan mahasiswa Unisri (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta menggelar acara Guest Lecture It Based Learning. Guest Lecture kali ini menghadirkan Pakar Teknologi Informasi (TI) Universitas Kuala Lumpur Malaysia Prof Dr Shahruiniza Musa.

“Kehadiran Prof Dr Shahruiniza Musa ini merupakan salah satu realisasi kerjasama internasional antara Universitas Slamet Riyadi dengan Universitas Kuala Lumpur Malaysia dalam pertukaran dosen,” jelas Ketua Panitia Sumardiono kepada wartawan, di Kampus Unisri Solo, Sabtu (17/2).

Sumardiono yang juga menjabat Kepala Urusan Internasional Unisri mengatakan, guest lecture di Unisri sebetulnya sering mendatangkan pakar luar negeri yang didesain dari keahlian dalam bidang tertentu untuk berbicara didepan pengajar dan dosen di lingkungan Unisri.

“Pakar yang kita datangkan terutama dari China, Thailand, Malaysia, Singapura, Taiwan, Inggris dan sebagainya. Kebetulan belum lama ini Unisri dengan Universitas Kuala Lumpur menandatangani kerjasama. Dan ini adalah realisasi dari kerjasama,” ujarnya.

Manfaat mendatangkan pakar dari luarnegeri, menurut Sumardiono, bahwa ilmu itu berkembang sangat luas. Dan kita tidak boleh seperti katak dalam tempurung, artinya kita harus membuka diri menerima informasi, ilmu pengetahuan dari luar. Itulah fungsinya kenapa perguruan tinggi melakukan kerjasama internasional, supaya kita memiliki wawasan luas.

“Kita harus tahu bahwa diluar sana banyak hal yang baru yang belum tentu kita ketahui, dan musti kita kuasai,” ujarnya.

Sementara itu, Prof Dr Shahruiniza Musa mengemukakan, dalam proses pembelajaran adalah penting. Sebab berdasarkan riset bahwa pembelajaran melalui teklnologi informatika lebih menarik dan mahasiswa lebih suka belajar menggunakan teknologi informasi dibanding metode konvensional.

Kondisi pembelajaran menggunakan teknologi informasi sekarang ini, menurut Shahruiniza, sudah sangat maju. Seperti dicontohkan, pada pendidikan kedokteran kalau dulu belajar organ tubuh harus bedah mayat, tetapi dengan teknologi informasi cukup melihat gambar tiga dimensi, dan bisa dipelajari secara detail.

“Sekarang dosen maupun mahasiswa menggunakan sarana ini. Kalau tidak, bakal ketinggalan dan terlibas,” ujarnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge