0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Tradisi Bajamba, Makan Bersama Bumi Ranah Minang

Suasana Makan Bajamba di acara Hari Pers Nasional 2018 Padang (timlo.net/eko prasetyo)

Padang – Salah satu rangkaian kemeriahan peringatan Hari Pers Nasional 2018 adalah acara Makan Bajamba. Eko Prasetyo, wartawan Timlo sebagai wartawan yang diundang acara rangkaian Hari Pers Nasional 2018 di kota Padang Sumatera Barat, sempat menghadiri acara makan bersama Bajamba yang digelar di halaman Museum Adityawarman Padang.

“Makan Bajamba di ranah Minangkabau, Sumatra Barat, adalah makan bersama berkelompok dalam satu piring besar. Ini merupakan makan secara adat– tradisi yang hidup secara turun temurun, sampai sekarang,” jelas Staf Biro Hukum Pemerintah Propinsi Sumatera Barat, Zulkifli yang juga penduduk asli Minang kepada Timlo.net saat menerangkan tentang tradisi Makan Bajamba.

Dulunya, kata Zul panggilan akrab Zulkifli, upacara makan bersama ini di dilaksanakan merata di seluruh wilayah adat Minangkabau. namun kini sudah bergeser, anak keponakan mencari upacara yang lebih sederhana. Sehingga hanya beberapa wilayah adat yang masih melaksanakan seperti wilayah adat Banuhampu, Kurai, dan di Tanah Datar.

Menurut Zul, makan bajamba tujuannya adalah untuk meningkatkan silaturrahmi dan kebersamaan di antara ipar dan besan, satu suku dengan suku lain serta sesama warga di dusun, jorong dan nagari.

Makan Bajamba dilaksanakan secara bersama mengelilingi satu piring besar yang disebut talam. Makan Bajamba bagi laki-laki duduk bersila di atas lantai mengelilingi talam/melingkar atau saling berhadapan. Dan bagi perempuan duduk bersimpuh, juga saling berhadapan mengelilingi talam.

Tiap talam atau jamba, hanya untuk lima orang, ditambah dengan seorang janang. Janang adalah, orang yang ditunjuk tuan rumah untuk menemani tamu makan. Seorang janang juga turut makan. Tetapi juga bertugas untuk menambah nasi, dan sambal missal gulai atau lauk pauknya serta sayur, kalau kurang. Janang itu intinya mengatur makanan agar sisa atau tidak boleh mubazir.

“Artinya nasi dan sambal yang ada dalam talam harus habis dimakan. Makanya waktu menambahkan nasi dan sambal, janang harus dapat memperkirakan dan menambahnya secara berangsur,” jelasnya.

Lauk-pauk yang akan diletakkan untuk makan Bajamba tidak boleh banyak macamnya. Paling banyak hanya lima hingga tujuh macam.

“Malah untuk suatu penghelatan hanya tiga macam sambal atau lauk-pauk yaitu, daging kerbau yang dibantai, sayur cempedak dan sayur biasa yaitu daun pucuk ubi,” ujarnya.

Menurut Zul, makan Bajamba memiliki sopan santun etika tersendiri. Tamu yang akan ikut makan bajamba harus diletakkan pada tempatnya. Begitu juga mau menyantap atau menyuap nasi, seseorang yang ikut makan Bajamba tidak boleh mengambil atau menyuap nasi dengan genggaman yang besar. Ini dinilai tidak sopan, bisa dibilang rakus maupun kurang etiket. Maka mengambil nasi adalah dengan ujung jari. Agar nasinya tidak berserak, maka ketika akan menyuap kita harus meremasnya agak bulat lebih dahulu dan baru dilempar ke mulut.

Untuk menempatkan lauk pauk atau sambal dari piring sambal ke talam jamba, harus pula dimulai dahulu dari sayur, kemudian goreng kerupuk bercapur ikan kering dan seterusnya sampai ke atas seperti gulai ayam dan daging.

“Gulai, lauk pauk atau sambal yang terletak di tengah jamba, bebas di ambil oleh anggota jamba,” jelas Zul.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge