0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Pengrajin Asal Wonogiri Dapat Order Buat Cinderamata Asian Games

Cinderamata Asian Games 2018 merupakan karya tangan terampil pengrajin wayang Desa Kepuhsari, Manyaran (foto: Tarmuji)

Wonogiri – Pengrajin wayang asal Dusun Kepuh Tengah RT4/RW1 Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Retno Lawiyani (38) dan Sujoko (42), mendapat kepercayaan membuat suvenir Asian Game XVIII 2018. Dia mendapat pesanan wayang mini ber

“Kami diminta membuat 65 set suvenir wayang mini berbentuk gunungan dan maskot Asian Game 2018. Maka dalam pengerjaannya pun harus benar-benar teliti dan hati-hati karena hasil harus rapi proses pengerjaan sampai finishingnya, karena tidak untuk Indonesia saja tapi negara asing,” ungkap pemilik Sanggar Asto Kenyo Art, Retno Lawiyani kepada Timlo.net, Sabtu (27/1).

Dia menuturkan, pembuatan cinderamata itu ditarget satu bulan. Dia menyerahkan hasil karyanya pada akhir November 2017 lalu.

“Awalnya itu, ada pihak ketiga datang ke sanggar saya, menawarkan apakah bisa membuatkan sampel untuk acara Asian Games. Awalnya saya juga ragu apakah bisa atau tidak ,tapi saya coba kemudian hasilnya dipresentasikan di Jakarta seperti kompetisi,” jelas dia.

Takhanya karya kami, juga dari beberapa sampel ada yang dari pengrajin daerah lain. Akhirnya yang diterima dari hasil sampel saya.Ya, akhirnya ada beberapa revisi, dari desain awal dan diterima. Lalu untuk terakhirnya langsung mulai pengerjaan,” lanjutnya.

Wayang mini itu beber Retno,sesuai pesanan terbuat dari kulit kerbau asli dengan cempurit atau gapit dari tanduk kerbau. Satu set suvenir terdiri atas empat wayang mini yang meliputi satu gunungan berukuran lebar 180 mm, tinggi (tidak termasuk gapit) 297 mm, panjang gapit 80 mm dengan lebar bunderan gapit 10 mm.

Kemudian tiga maskot Asian Games yakni Bhin-bhin (burung cendrawasih) berukuran lebar 96 mm, tinggi (tidak termasuk gapit) 90 milimeter, panjang gapit 51 milimeter dan lebar gapit 4 milimeter.

Selanjutnya wayang Atung (rusa bawean), berukuran lebar 86 mm, tinggi (tidak termasuk gapit) 125 mm, panjang gapit 51 milimeter dengan lebar gapit 4 milimeter dan wayang ika (badak bercula satu) lebarnya 150 mm, tinggi (tidak termasuk gapit) 180 mm, panjang gapit 56 milimeter dan lebar gapit 4 milimeter.

sumber: ist

“Satu set dihargai Rp 650 ribu. Untuk modalnya sekitar Rp 20 juta, seperti untuk membeli bahan serta upah tenaga kerja,” ungkapnya.

Untuk menuntaskan pesanan itu, Retno mempekerjakan tiga penatah, dua penyungging atau orang yang mewarnai, tiga pencetak, dan satu pemasang gapit. Pesanan itu merupakan kali pertamanya untuk sekelas even Asian Games. Biasanya ia melayani pesanan khusus kolektor dan masyarakat umum.

Karena ini spesial, maka proses pengerjaannya pun harus detail dan teliti. Bahkan melalui proses yang sangat rumit, dimana kulit harus dikerok dahulu untuk mendapatkan ketebalan yang pas.

Setelah itu dipenthang, diamplas dan diseterika untuk memperhalus pori-pori supaya rata, setelah itu diwarnai menggunakan mesin khusus,itu pun harus dibawa ke Solo. Setelah itu ditatah sesuai pola, lalu diberi warna tambahan secara manual dan terakhir dipasangi gapit.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge