0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Ini Kendala 3D Video Mapping Sebagai Pengganti Kembang Api

Ketua Panitia Imlek Bersama, Sumartono Hadinoto (Dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo – Panitia Perayaan Tahun Baru Imlek 2018 masih berfikir ulang untuk menyajikan video mapping di Bangunan Pasar Gede sebagai pengganti kembang api. Tingginya biaya video mapping menjadi kedala utama.

“Kita sudah tanya-tanya, ternyata mahal,” kata Tokoh Tionghoa yang juga Panitia Perayaan Tahun Baru Imlek, Sumartono Hadinoto, Minggu (21/1).

Sumartono sendiri sudah mencari informasi terkait biaya pembuatan 3D Video Mapping. Hasilnya, ia mendapat angka di atas Rp 150 Juta untuk satu kali pertunjukan. Dua kali lipat lebih dari pertunjukan kembang api yang hanya mencapai sedikit di atas Rp 50 Juta.

“Makanya ini masih kita pertimbangkan apakah nanti pakai 3D Video Mapping atau pakai apa penggantinya,” kata dia.

Tingginya biaya video mapping membuat panitia berfikir ulang. Sumartono sendiri faham untuk menyajikan tontonan berupa video mapping memang membutuhkan alat yang canggih. Proyektor yang biasa ditemui di pasaran tak mampu untuk menghasilkan efek yang diinginkan. Pasalnya, proyektor kantoran umumnya hanya memiliki tingkat kecerahan maksimal 2.000 Ansi Lumens. Sementara untuk 3D Video Mapping diperlukan proyektor dengan kekuatan minimal 16.000 Ansi Lumens.

“Belum lagi jasa untuk animatornya,” kata dia.

Meski demikian, panitia tetap akan mengupayakan tontonan yang tak kalah spektakuler. Bahkan sampai saat ini 3D Video Mapping masih menjadi salah satu opsi yang sangat dipertimbangkan panitia.

“Siapa tahu nanti ada putra daerah yang bisa (3D Video Mapping) yang bisa memberi penawaran yang lebih terjangkau. Tapi ini kita masih mencari-cari,” kata dia.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge