0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Sinar Matahari Bisa Susutkan Sel Lemak

Tiga matahari bersinar di St. Petersburg, Rusia. (DailyStar.co.uk)

Timlo.net—Sebuah penelitian baru mengungkap alasan kenapa orang bertambah berat saat musim dingin tiba. Alasannya tidak berhubungan dengan musim liburan. Untuk penelitian baru ini, para peneliti dari University of Alberta menaruh sel lemak di bawah sinar lampu biru. Sinar biru adalah cahaya terlihat matahari yang paling pendek. Sel lemak itu disinari cahaya itu selama empat jam. Sementara sel lemak lainnya disimpan dalam tempat gelap. Setelah dua minggu, dua sel lemak itu menunjukkan perbedaaan yang sangat mencolok, tulis Reader’s Digest.

Pada hari ke-11, sel lemak yang terpapar sinar biru memiliki lebih sedikit tetesan lipid. Lipid adalah organel yang menyimpan lemak. Sel lemak yang disimpan dalam gelap memiliki tetesan lipid yang lebih banyak. Tetesan lipid sel lemak yang terpapar cahaya biru juga lebih kecil.

“Dengan kata lain, sel-sel kita tidak menyimpan banyak lemak,” ujar pemimpin peneliti senior Peter Light, PhD dari the University of Alberta. Di sisi lain, semakin sedikit cahaya, semakin banyak lemak tersimpan dalam sel. Itulah kenapa orang-orang bertambah berat saat musim dingin tiba.

Penelitian lebih lanjut diperlukan. Selain itu para peneliti belum menemukan jawaban kenapa cahaya mempengaruhi penyimpanan lemak. Tapi para peneliti punya teori. Cahaya biru memiliki reputasi terutama pada layar elektronik. Cahaya itu membuat orang susah tidur di malam hari. Sekarang para peneliti berpendapat jika cahaya biru bisa memberitahu tubuh bagaimana menyimpan lemak.

Selama musim dingin, siang hari lebih pendek dan suhu lebih dingin. Tubuh diprogram untuk menyimpan lemak. Sedangkan pada musim panas, lebih banyak cahaya matahari. Tubuh Anda membakar lemak yang disimpan selama musim dingin.

Para peneliti berharap temuan mereka bisa mendorong munculnya inovasi di bidang penurunan berat badan. Tapi mereka memperingatkan masyarakat untuk tidak mencoba membakar lemak dengan berjemur matahari lebih lama. “Contohnya, kita tidak tahu intensitas dan durasi cahaya yang diperlukan supaya cara ini teraktivasi,” kata Peter, seorang profesor farmakologi dan kepala Alberta Diabetes Institute, Universitas Alberta.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge