0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

LGBT Bisa Disembuhkan 100 Persen, Ini Syaratnya

Pakar neuropsikologi Ikhsan Gumilar (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai uji materi pasal kesusilaan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) menimbulkan pro dan kontra oleh sebagian masyarakat. Pihak yang kontra, menyayangkan putusan MK tersebut.

Pakar neuropsikologi, Ikhsan Gumilar memiliki pandangan terhadap Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT). Menurutnya, ada peran lingkungan yang membentuk keputusan seseorang memilih menjadi LGBT. Dalam pembuktian ilmiah, ujar Ikhsan, LGBT muncul karena adanya rangsangan.

“Sebuah konsep dunia kedokteran menunjukkan otak akan berhenti berkembang waktu tertentu, tapi riset-riset terbaru berubah secara terstruktur. Ada bagian otak manusia yang tidak aktif namun saat diperlihatkan gambar-gambar homoseks jadi aktif dan ketika otak ini dikasih suapan itu terus maka itu akan berubah,” ujar Ikhsan dalam sebuah diskusi, Jakarta Pusat, Sabtu (23/12).

Dia juga menyanggah anggapan sejumlah pihak yang menyatakan keputusan seseorang menjadi LGBT hanya berdasarkan faktor psikologi saja. Merujuk dari fakta ilmiah yang telah diuraikannya, Ikhsan mengatakan faktor utama LGBT tersebut adalah lingkungan.

Lebih lanjut, dia juga menegaskan LGBT bisa disembuhkan secara total. Hanya saja, upaya tersebut akan tercapai jika si LGBT memiliki niat untuk keluar dari kelompok tersebut.

Ikhsan mencontohkan upaya pemerintah di Inggris beberapa tahun lalu untuk menekan kelompok LGBT. Disebutkan otoritas yang berwenang akan segera melakukan terapi terhadap kelompok LGBT yang memperlihatkan sikap mereka di tempat umum.

“Jadi bisa tidak itu disembuhkan? 100 persen bisa if mereka mau,” ujarnya.

Sebelumnya, MK menolak permohonan uji materi Pasal 284, Pasal 285 dan Pasal 292 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), ketiga pasal tersebut mengatur soal kejahatan terhadap kesusilaan.

Permohonan uji materi Pasal 284, Pasal 285 dan Pasal 292 KUHP dalam perkara nomor 46/PUU-XIV/2016 diajukan oleh Guru Besar IPB Euis Sunarti bersama sejumlah pihak.

Sementara dalam gugatannya pemohon meminta pasal 284 tidak perlu memiliki unsur salah satu orang berbuat zina sedang dalam ikatan perkawinan dan tidak perlu ada aduan.

Terkait pasal 292, pemohon meminta dihapuskannya frasa “belum dewasa”, maka semua perbuatan seksual sesama jenis dapat dipidana. Selain itu, homoseksual haruslah dilarang tanpa membedakan batasan usia korban, baik masih belum dewasa atau sudah dewasa.

Dalam pertimbangannya, MK menjelaskan, pada prinsipnya permohonan pemohon yang meminta Mahkamah memperluas ruang lingkup karena sudah tidak sesuai dengan masyarakat, sehingga mengakibatkan pada perubahan hal prinsip atau pokok dalam hukum pidana dan konsep-konsep dasar yang berkenaan dengan suatu perbuatan pidana. [dan]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge