0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kisah Ibu-ibu Penambang Pasir Desa Gading

Para perempuan penambang pasir di Dukuh Ngeledog, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Sragen. (foto: Agung Widodo)

Sragen – Sejumlah perempuan menggendong keranjang sambil berendam di sebuah sungai Dukuh Ngeledog, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Sragen. Dingin dan derasnya air sungai tidak mereka hiraukan.

Peluh yang menetes dari wajah-wajah kusam bercampur dengan air tak mereka rasakan. Namun mereka tetap menunjukkan keperkasaan di balik wajah lugunya.

Itulah sosok para ibu-ibu yang berprofesi sebagai penambang pasir di Dukuh Ngeledok, Desa Gading. Setiap hari rela turun ke tengah sungai yang cukup dalam untuk membantu suaminya mencari pasir. Mereka memang menggantungkan hidupnya dari hasil menambang pasir tersebut.

Seperti yang dituturkan Siti (50), warga Dukuh Ngeledog RT 19, Desa Gading, Kecamatan Tanon mengaku terpaksa membantu suaminya, Sarmo (60), mencari pasir di sungai lantaran tidak ada pekerjaan lain. Setiap hari setelah selesai masak bersama penambang pasir lainnya yang rata-rata juga perempuan turun ke dasar sungai untuk mengambil pasir.

“Saya sama suami dulu yang pertama kali cari pasir di sungai ini, sedangkan sekarang hampir seluruh kampung mencari pasir di sini,” kata Siti kepada wartawan, baru-baru ini.

Sementara warga lainnya, Warni, mengaku mencari pasir pada musim penghujan saja. Pasalnya kalau tidak musim penghujan biasanya tidak ada pasir. Kalaupun ada pasir, tapi letaknya jauh dari tempat tinggal mereka, harus mencari dari hulu sampai hilir.

“Kalau musim kemarau pasir di sini malah agak susah, tetapi kalau musim penghujan seperti ini menjadi berkah tersendiri pasir melimpah,” ujar Warni.

Sementara harga pasir sendiri tidak sepadan dengan jerih payah yang mereka dilakukan. Dalam satu truk hanya dijual sebesar Rp 200.000. Itu pun termasuk dihitung dengan tenaga menaikkan ke atas truk.

Namun semangat ibu-ibu yang rata rata memiliki usia diatas tiga puluh tahunan tersebut tidak pernah redup demi menghidupi keluarganya.

foto: Agung Widodo

Sekretaris Desa (Sekdes) Gading, Sarno sebenarnya mengaku prihatin terhadap jerih payah yang dilakukan kaum ibu di desanya. Pasalnya, harga pasir yang diperoleh dari penambang pasir tersebut dibeli dengan harga murah oleh pengusaha dari luar daerah.

Untuk menyejahterakan warga, pihaknya berencana, melalui BUMDes bakal membeli dengan harga yang wajar.

“Kalau pasir itu nanti bagus kemungkinan nanti BUMDes bisa menbeli di sini dengan harga yang layak, tidak rendah sekali,” katanya.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge