0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

2018, Harga Minyak Dunia Diprediksi Capai USD 65 per Barel

ilustrasi (merdeka.com)

Timlo.net – Harga minyak dunia diprediksi naik ke posisi USD 60 hingga USD 65 per barel pada 2018 mendatang. Harga ini jauh lebih tinggi dibanding penghujung 2014 lalu, di mana harga minyak dunia sempat menyentuh level USD 30 per barel.

Pemulihan harga ke depannya tak lepas dari kesepakatan negara-negara penghasil minyak pada November 2016 untuk memangkas produksi dan ekspor sebesar 1,8 juta barrel per hari.

Rata-rata harga minyak pada 2018 diperkirakan akan terus meningkat. Selain pemangkasan, faktor lain yang mendongkrak kenaikan harga adalah tumbuhnya konsumsi minyak Amerika Serikat, Eropa, China dan India.

“Konsumsi minyak mentah dunia akan tumbuh 1,4-1,5 juta bpd di 2017/18,” ujar tim ekonom DBS Suvro Sarkar, Pei Hwa Ho, Glenn Ng, William Simadiputra dan Janice Chua dalam laporan DBS Group Research Regional Industry Focus yang bertajuk Regional Industry Focus: Oil and Gas.

Menurut tim riset DBS, kondisi tersebut tentu menggembirakan bagi industri migas dan negara produsen minyak, namun sebaliknya bagi Indonesia, yang dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi negara net importir. Kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan produk domestik bruto nasional.

Kendati demikian, tim riset DBS menyatakan peningkatan harga minyak mentah akan berdampak positif terhadap anggaran pemerintah Indonesia. Sebabnya, pendapatan pajak dan non pajak dari sektor migas yang diperkirakan Rp 113 triliun masih 10 persen lebih tinggi dibanding subsidi energi 2018.

Namun, kenaikan harga minyak dunia yang dapat memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), akan berdampak pada naiknya harga barang pokok yang disebabkan mahalnya biaya produksi. Meskipun bisa saja pemerintah Indonesia tidak menaikkan harga bahan bakar untuk menjaga biaya operasional. Tapi, kebijakan untuk mempertahankan harga BBM harus mempertimbangkan ketersediaan anggaran untuk subsidi.

Kenaikan BBM memang memiliki efek domino sehingga mendorong kenaikan harga bahan pokok dan jasa lainnya, dan menyebabkan tingginya inflasi. Dengan menggunakan Consumer Price Index (CPI)—indikator penghitungan tingkat inflasi di suatu negara, sektor transportasi dan listrik menjadi kontributor terbesar dalam menentukan di Indonesia, mencapai 25 persen dari seluruh kategori CPI yang ada.

Oleh sebab itu, DBS memprediksi tiap 10 persen kenaikan harga minyak mentah dunia, akan berdampak terhadap peningkatan inflasi sebesar 0,6.

Kondisi ini jelas menjadi tantangan bagi pemerintah di tengah upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing untuk mendorong masuknya investasi. Sebab, inflasi merupakan elemen penting yang mempengaruhi rating investasi sebuah negara.

Namun, pemberian subsidi untuk mempertahankan harga BBM dan menekan inflasi juga harus melalui pertimbangan matang, tidak hanya ketersediaan anggaran, tapi juga dampak bagi upaya pengembangan energi terbarukan.

[idr]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge