0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Dua Kawasan Lokalisasi di Kuta Selatan Akhirnya Ditutup

Bupati Badung segel tempat pelacuran (merdeka.com)

Timlo.net — Dua kawasan lokalisasi pelacuran, ‘Aseman’ dan ‘Gunung Lawu’ di wilayah Kuta Selatan yang sudah ada sejak tahun 1990an, akhirnya ditutup. Bahkan Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta didampingi wakilnya terjun langsung melakukan penyegelan di Jalan Baypass Ngurah Rai, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Selasa (19/12) sore.

Dari dua lokasi tersebut setidaknya ada 52 wisma yang dibredel dimana telah dihuni oleh ratusan perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks komersil.

Bupati Badung, Giri Prasta menyatakan, penyegelan tempat prostitusi ini untuk menyelamatkan generasi muda Badung agar terhindar dari perilaku negatif dan menimbulkan penyakit masyarakat.

Dia menjelaskan, bahwa penutupan lokalisasi di dua tempat tersebut berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 73 Tahun 2015 dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.

“Penutupan lokalisasi ini dilakukan mengingat dampak yang ditimbulkan ke depannya sangat besar, seperti penyebaran penyakit HIV/AIDS yang dikhawatirkan merusak generasi muda Badung. Tidak ada toleransi lagi, ltempat prostitusi ini kami tutup,” tegas Giri Prasta.

Dia menegaskan, penutupan lokalisasi telah dilakukan sesuai prosedur dan SOP dengan memberikan surat peringatan sebanyak tiga kali dan kemudian dilakukan penindakan secara tegas.

Bahkan hal itu didasari pada peringatan sebelumnya sejak dua bulan lalu agar mengosongkan lokasi namum diindahkan.

Pasca ditutupnya lokasi prostitusi tersebut maka tempatnya akan dialihfungsikan. Untuk menjadi tempat pusat perekonomian masyarakat agar tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Secara tegas kalau nantinya ada bibit-bibit seperti ini lagi, saya perintahkan ketua tim yustisi untuk melakukan tindakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Badung harus bersih dari tempat prostitusi,”tegasnya.

Sementara itu, Kepala Sapol PP Badung, IGAK Suryanegara mengatakan, upaya ini dilakukan secara tegas karena sudah ada Peraturan Bupati Nomor 73 Tahun 2015 dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.

“Ada 52 wisma yang ditutup itu pekerjanya ada 520 orang (wanita penghibur). Penegakkan perda ini kami lakukan secara tegas untuk menjaga ketertiban,” tandasnya.

[ded]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge