0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Peran LSM Belum Maksimal Tanggulangi AIDS

Ilustrasi HIV/AIDS (dok.timlo.net/red)

Timlo.net – Setidaknya delapan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berada di Solo mampu berperan dalam penanggulangan dan pencegahan virus mematikan HIV/AIDS. Seperti di banyak negara lain, lemba non pemerintah dinilai mampu menjangkau ke setiap sudut wilayah tanpa ribet berurusan dengan birokrasi.

Bayangkan saja, bila kegiatan pencegahan seperti memberikan penyuluhan di lokasi suspect rentan virus HIV/AIDS, kemungkinan besar anak-anak muda tertular sangat cepat.

Salah seorang aktivis yang bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS, Beni Bono, mengaku perhatian yang diberikan pemerintah belum memadai. Padahal, ujar Beni serius, rekan-rekan aktivis dan sekaligus relawan menjadi ujung tombak bagi pencegah membludaknya virus tersebut. Bagi mereka, terutama pengguna nyimeng (pemakai narkoba), pelampiasan melakukan hubungan seks bebas menjadi salah satu kebiasaan yang sulit dicegah.

“Walikota seharusnya menegur pegawai di jajaran terkait upaya penanggulangan HIV/AIDS kalau tidak serius. Setiap kali mengikuti public hearing di DPRD keluhannya tetap sama, pemerintah tidak memiliki dana anggaran besar. Repot juga kalau begitu,” ujarnya kepada Timlo.net, baru-baru ini.

Senada dengan Beni, pengalaman bergaul dengan para pemakai, menurut Gembong Nugroho, bukan berarti mengajak petugas kesehatan atau aktivis mencoba barang haram itu. Tetapi akan lebih baik nimbrung mengikuti arus perilaku para pemakai sekaligus pengedar cimeng. Dari situlah, ujar dia menambahkan, para penggiat dan aktivis penolak HIV/AIDS perlu belajar banyak muara sebab-musabab penularan penyakit itu.

Suatu kali, papar Gembong Nugroho, kami berbincang-bincang dengan beberapa pekerja seks komersial soal virus HIV/AIDS. Menurut mereka, anak muda pemakai cimeng biasanya menjadi pelanggan tetap.

“Tetapi saya tidak mau mengambil resiko, saya suruh memakai ‘sarung’ dulu baru mau. Meski dibayar mahal sekalipun, saya ogah ngeladeni,” kata Gembong menirukan PSK yang beroperasi di kawasan Banjarsari, Solo.

Persoalannya, bagaimana upaya pemerintah melakukan pencegahan pengguna cimeng agar sadar dan tidak lagi menjadi pemakai. Bukan perkara mudah, menyadarkan anak muda yang sedang frustasi, tanpa kerjaan dan berperilaku aneh suka nyimeng.

“Itu yang seharusnya perlu terus dijalin pemerintah. Entah lewat NGO’s peduli HIV/AIDS atau pejabat sendiri turun tangan, saya gak tahu,” ujar dia.

Sejalan dengan kekawatiran Beni maupun Gembong, menurut koordinator Monitoring Evaluasi (Monev), Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Solo, Tommy menyatakan kekawatirannya bila pemerintah daerah tidak segera melakukan gebrakan yang terorganisir antarlembaga swadaya masyarakat dan warga peduli Aids penularan virus semakin cepat.

“Apakah dengan pembangunan shelter lantas kemudian penularan virus akan berkurang? Menurut saya tidak seperti itu. Harus ada langkah berkesinambungan koordinatif antar aktivis,” ujar dia.

Padahal, bila dioptimalkan secara maksimal, kedelapan LSM yang bergerak di bidang pencegahan, penanggulangan dan penyuluhan HIV/AIDS, menurut Tommy tidak sulit. Selain kedelapan LSM tersebut telah berkecipung lama dalam dunia virus mematikan, juga mereka sangat concern terhadap pencegahan penularan HIV AID.

“Rasanya tidak sulit menggerakkan teman-teman LSM yang peduli terhadap masalah HIV/AIDS. Mosok kalah dengan teman-teman aktivis di Papua. Mereka bisa mengerem penyebaran HIV/AIDS. Tentu dukungan dari funding dan pemerintah tetap diperlukan,” jelas dia.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge