0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Indepth Report (Bagian Satu)

Shelter Penderita HIV/AIDS Perlu Fasilitas Memadai

Warga Kelurahan Penumping melakukan aksi melawan penyebaran virus HIV/ AIDS (foto: Khalik)

Timlo.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo terlihat semakin serius melakukan penanganan para penderita HIV/AIDS yang menjadi ancaman generasi muda. Peningkatan prevalensi penderita HIV positif tak bisa dibuat enteng.

Sejak diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 Tahun 2014 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), pada tahun 2014, pemerintah mau tidak mau harus melakukan tindakan nyata.

“Mau tidak mau pemerintah harus selalu memperkokoh ketahanan dan kesejahteraan keluarga dalam upaya melakukan pencegahan HIV dan AIDS berpedoman Strategi Nasional dan Rencana Strategi KPA),” tandas Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, baru-baru ini.

Pembangunan rumah singgah bagi anak usia 9-15 tahun yang tertular HIV/AIDS, di samping Taman Makam Pahlawan (TMP) Jurug, ujar dia, merupakan bagian penting dari upaya pencegaham penyebarluasan suspect pada orang lain.

Selain itu upaya memberikan dukungan pendanaan bagi lembaga koordinator penanggulangan HIV/AIDS, dalam upaya melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan kejadian yang dapat menimbulkan penularan penyakit tersebut.

“Pemkot akan melakukan upaya pencegahan penularan HIV/AIDS,” ujar FX Hadi Rudyatmo ketika dihubungi via telepon.

“Buktinya ada shelter di Jurug. Nanti akan kita tambah fasilitas bangunan lain, buat ruang bermain.”

Keinginan walikota bukan mustahil dilakukan, mengingat pembangunan shelter bagi anak dengan status HIV/AIDS, merupakan bentuk kerjasama dengan lembaga swasta.

“Langkah menggandeng pihak swasta melalui Corporate Social Responsibility (CSR) seperti itu yang akan terus kita kembangkan,” ujardia, “Kita akan buat gedung di samping Selatan. Kemarin sudah bicara dengan Kemenkes.”

Keinginan walikota Rudyatmo, ujar Pengelola Program dan Monitoring Evaluasi (Monev) Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Solo, Tommy Prawoto, bukan hal yang tak bisa dijangkau. Apalagi, lembaga pendanaan dari luar negeri mulai melirik apa yang telah dilakukan Pemkot Solo dalam membangun shelter penderita HIV/AIDS.

“Memang harus demikian. Pemkot bisa saja membuat shelter baru dan gedung tempat bagi anak-anak suspect HIV/AIDS Solo. Termasuk tempat bermain dan berkreasi di Jurug,” katanya.

Selain itu, kata Tommy menambahkan, agar pengelola penanggulangan HIV/AIDS di kota Solo dapat leluasa melakukan aktivitas pelayanan dan penyuluhan sepantasnya penambahan dana anggaran perlu ditambah. Sebab, ujardia, KPA sebagai lembaga koordinator LSM maupun kantong WPA (WargaPeduli Aids), bila anggaran agak ribet.

“Terus terang kami kesulitan melakukan kegiatan penyuluhan bersama teman koordinator LSM ke kantong padat penduduk, karena memang sangat minim anggaran yang diberikan Pemkot melalui APBD kota Solo,” ujar dia.

Keprihatinan Tommy bisa dimengerti, lantaran KPA yang biasanya menerima kucuran dana dari Global Funding Penanggulangan HIV/AIDS, tahun depan sudah tidak lagi menggelontorkan anggaran. Menurut Tommy, keputusan funding menghentikan kucuran dana ke KPA pantas disesalkan.

“Besok kami bersama LSM Penggiat penanggulangan HIV/AIDS di Solo dan Yogya berkumpul membahas putusan Global Funding for HIV/AIDS. Terus terang kami tidak mengerti apa yang menjadi alasan, upaya mencegah dan sosialisasi virus mematikan itu tidak lagi didanai,” ujardia.

Padahal, katanya menambahkan, pantauan UNAID pun menyebutkan pertumbuhan orang yang tertular HIV/AIDS baru di Indonesia mencapai mencapai 48.000 orang.

“Sebanyak 38.000 penderita HIV/AIDS meninggal,” papardia, “di Solo sendiri tes HIV yang dilakukan di beberapa kelurahan menunjukkan kenaikan setiaptahun. Ini artinya kami, bersama LSM lain akan terus bergerak melakukan penyuluhan ke kampung.”

Setidaknya, delapan LSM yang bergerak di lini lapangan melakukan pencegahan penularan HIV/AIDS perlu mendapat dukungan pemerintah. Paling kurang ruang bergerak bagiaktivis AIDS, bila melakukan penyuluhan dampak HIV/AIDS dapat leluasa memberi wawasan bahaya HIV/AIDS.

“Terdapat delapan LSM yang bergerak penanggulang HIV/AIDS perlu mendapat dukungan pendanaan penuh dari pemerintah,” katanya.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge