0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Gelar Karya Inovasi Pemkot Akan Diperluas Sampai Kelurahan

(Kepala Dispendukcapil Suwarta menerima trofi juara I Gelar Karya Inovasi Kota Surakarta dari Sekretaris Daerah Budi Yulistianto, sabtu (16/12) || Foto: Humas Pemkot)

Solo – Setelah sukses menggelar Konvensi Inovasi Pemerintah Kota 2017, Pemerintah Kota Solo berencana mengembangkan program tersebut. Pada tahun ini, program perdana itu masih menyasar instansi Pemkot hingga tataran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan kecamatan.

“Tahun depan kita harapkan kelurahan bisa ikut didorong berinovasi,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Budi Yulistianto, Sabtu (16/12).

Sejak beberapa tahun terakhir, Pemkot memang mendorong OPD untuk menelurkan program-program inovatif. Khususnya dalam hal-hal yang langsung bersentuhan dengan pelayanan masyarakat. Untuk itu, Pemkot mengikuti program Laboratorium Inovasi yang dikawal Lembaga Administrasi Negara (LAN).

Dalam program itu, OPD mendapat pendampingan dari LAN mulai dari tahap drum up (menggugah kemauan berinovasi) hingga delivery (pelaksanaan). Bahkan selam pelaksanaan pun, LAN masih memberi masukan-masukan untuk perbaikan program inovatif yang sudah berjalan.

“Saya minta dari OPD-OPD ini bisa diturunkan ke bawah sampai kelurahan bahkan RT dan RW,” kata dia.

Meski penekanan inovasi tahun depan lebih dibebankan ke kelurahan, bukan berarti OPD dan Kecamatan bebas berleha-leha. Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo mewajibkan satu OPD menelurkan minimal satu program inovatif setiap tahun.

“Jangan mandeg sampai di sini. Ini (inovasi) harus terus dilakukan,” kata dia.

Sementara itu, Peneliti Madya LAN Suripto mengakui inovasi masih menjadi barang baru di lingkungan birokrasi. Berdasarkan pemetaan yang dilakukannya, pemerintah daerah di seluruh Indonesia masih minim inovasi.

“Kurang dari 10 persen (daerah yang berinovasi). Itu pun masih sangat didominasi daerah-daerah di Pulau Jawa,” kata dia.

Kultur berinovasi di kalangan birokrasi juga terkendala ketergantungan kepada satu figur. Karena ketergantungan itu, inovasi di satu lembaga cenderung mandek ketika figur inovatif itu pindah ke lembaga lain.

“Makanya harus dibuat satu sistem di mana semua pihak terlibat berinovasi. Tidak tergantung pada satu orang,” kata dia.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge