0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Bus Sudah Terlanjur Dimodifikasi, Ini Harapan Kalangan Difabel

Interior bus Gatotkaca (foto: Ichsan Rosyid)

Solo – Kalangan penyandang disabilitas terkaget-kaget saat membaca berita hari Sabtu (16/12). Bus ramah difabel, Begawan Abiyasa, yang menjadi kebanggaan mereka disulap Pemerintah Kota Solo menjadi mobile office alias kantor berjalan berjuluk Gatotkaca.

“Setahu saya komunitas difabel tidak diajak komunikasi,” kata Kepala Pengembangan Bakat dan Minat Anak Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Solo, Sugian Noor saat dihubungi timlo.net, Sabtu (16/12).

Sugian Noor sempat mengira Gatotkaca adalah bus baru yang menjadi terobosan Dinas Perhubungan (Dishub). Kekecewaannya muncul setelah mengetahui bahwa bus tersebut adalah Bus Begawan Abiyasa yang dimodifikasi.

“Kita jadi bertanya-tanya. Kenapa,” kata dia.

Ia pun menduga ada motif bisnis dalam alihfungsi Begawan Abiyasa menjadi kantor berjalan. Dishub memang berencana menyewakan bus tersebut ke kantor-kantor maupun wisatawan yang ingin merasakan sensasi rapat di perjalanan.

“Mungkin dari sisi bisnis tidak ada pemasukan (dari bus ramah difabel). Kalau dijadikan office sudah pasti bisnis oriented,” kata dia.

Di sisi lain, Sugian mengakui pemanfaatan Begawan Abiyasa memang belum maksimal. Bus bersasis rendah itu berbulan-bulan mangkrak tak digunakan. Begawan Abiyasa memang hanya tunduk kepada sopir yang benar-benar mahir.

Ukurannya yang jumbo (13 x 2 meter) menyulitkan pengemudi bermanuver di belokan-belokan tajam. Sasisnya yang rendah pun turut menjadi tantangan tersendiri. Pengemudi harus cermat menghindari lubang-lubang di jalan. Salah-salah sasis bus yang rendah akan menghantam aspal.

“Memang tidak bisa digunakan untuk perjalanan jauh. Tidak bisa masuk ke wilayah yang jalannya sempit,” kata dia.

Meski demikian, ia berharap Pemkot lebih intens menjalin komunikasi dengan komunitas difabel. Dengan komunikasi yang lancar, ia yakin pemanfaatan bus ramah difabel itu bisa lebih maksimal. Apalagi di Solo banyak komunitas difabel.

“Umpamanya ada dalam satu minggu ada hari khusus untuk Solo City Tour untuk SLB-SLB di solo. Kan bermanfaat. Di Solo ini ada 16 SLB lho,” kata dia.

Hal senada disampaikan salah satu atlet kursi roda balap Doni Yulianto. Ia mengatakan Begawan Abiyasa bisa dimanfaatkan untuk kampanye transportasi umum ramah difabel. Ia berpendapat tidak maksimalnya pemanfaatan Begawan Abiyasa disebabkan kurangnya sosialisasi kepada komunitas difabel.

“Mungkin kurang sosialisasi. Bagaimana mengaksesnya, pengajuannya lewat mana,” kata dia.

Nasi sudah menjadi bubur. Sugian maupun Doni tak bisa berbuat banyak. Mereka berharap ke depan Pemerintah lebih peka dalam memenuhi aksesbilitas fasilitas umum bagi kaum difabel.

“Akhirnya kan jadi begitu. Sudah terlanjut mau gimana lagi. Saya harap ke depan Pemkot bisa menyediakan bus ramah difabel yang ukurannya lebih kecil. Jadi lebih gesit dan bisa masuk ke jalan-jalan yang sempit,” kata Sugian Noor.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge