0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ratusan Siswa SD Mendapat Penyuluhan Penyakit Difteri

Siswa SD Muhammadiyah 1 Solo menerima penyuluhan kesehatan (dok.timlo.net/tyo eka)
Solo — Sebanyak 258 siswa SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Surakarta menerima penyuluhan kesehatan penyakit menular, di sekolah setempat, Solo, Selasa (12/12). Penyuluhan itu memanfaatkan kegiatan jeda penilaian akhir semester (PAS).
“Penyuluhan penyakit menular disampaikan, bertujuan untuk mewujudkan dan menyadarkan pentingnya kesehatan bagi siswa-siswi agar terbiasa dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” jelas Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas Dwi Jatmiko kepada wartawan di sela-sela acara.
Pada acara ini, kata Jatmiko, anak-anak diajarkan bagaimana menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, salah satunya cara mencuci tangan pakai sabun yang baik dan benar, Mencuci piring habis santap siang secara mandiri, membeli makanan, jajanan sehat di kantin sehat yang terhindar dari 3 P (Plastik, Pengawet, Perwarna), serta mengetahui kebersihan gigi dan mulut.
Kegiatan ini, kata Jatmiko, dalam rangka menumbuhkembangkan dan menyadarkan generasi zaman now atau muda pentingnya akan arti kesehatan dan cara penerapan secara baik dan benar agar terhindar dari penyakit dan menjadi generasi sehat, kuat, tangguh dan berguna bagi keluarga, masyarakat, agama, nusa, dan bangsa.
Pada kesempatan itu, Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Surakarta yang diwakili Kepala Puskesmas Setabelan dr.Sri Rahayu Susilowati mengatakan, meminta kepada anak-anak atau peserta didik agar terus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit difteri.
Apa itu difteri? Lanjut Rahayu, Difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae, ditandai dengan adanya peradangan, terutama pada selaput bagian dalam saluran pernapasan bagian atas, hidung dan juga kulit.
“Penyakit ini sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian,” kata Kepala UPT Puskesmas Setabelan.
Dihadapan ratusaan siswa-siswi SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, Dia menjelaskan dampak dari difteri di antaranya tersumbatnya saluran pernapasan, gagal jantung.
Pihaknya menghimbau melalui jalur pendidikan untuk   meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit difteri dan mengenal ciri-ciri difteri dengan baik, demam suhu lebih kurang 38 °C, ada selaput putih keabu-abuan pada tenggorokan, sakit waktu menelan, leher membengkak seperti leher sapi (bullneck), disebabkan karena pembengkakan kelenjar leher, dan sesak nafas disertai bunyi (stridor).
Dia menuturkan, apabila ada satu orang yang terjangkit penyakit difteri, maka harus segera dilakukan tindakan pertolongan pertama pada orang yang terjangkit. “Kalau tiba-tiba ada satu orang yang kena penyakit difteri, langkah pertama datang ke pelayanan kesehatan, kedua segera melapor ke Dinas Kesehatan setempat, dan ketiga melaksanakan PHBS,” katanya.
Difteri, menurut Rahayu, dapat disembuhkan apabila orang yang terjangkit tidak terlambat dalam mendapatkan pertolongan.
“Cara mencegah difteri dengan Imunisasi, Bayi dan Baduta: Bayi (0-11 bulan) wajib mendapatkan 3 dosis imunisasi dasar DPT-HB-HiB pada usia 2,3 dan 4 bulan. Kemudian dilanjutkan dengan 1 dosis DPT-HB-HiB pada usia 18 bulan sedangkan anak sekolah dasar/sederajat kelas 1 wajib mendapatkan 1 dosis imunisasi DT. Anak sekolah dasar/sederajat kelas 2 dan 5 wajib mendapatkan imunisasi Td,” jelas Rahayu.
Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge