0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Jatuh Bangun, Siti Ingin Eksis Membatik

Pengrajin batik, Ayuni Siti Laksmi (foto: Merry fernand)

Timlo.net – Seorang wanita paruh baya sedang sibuk menyanting batik dengan raut muka serius. Ia menggoreskan setiap gambar di kain berwarna putih dengan sangat hati-hati. Setiap karya yang ia goreskan merupakan gambaran kecintaannya terhadap batik tulis.

Ayuni Siti Laksmi (55), lahir dan dibesarkan di Yogyakarta 23 Februari 1962. Dilahirkan dan tumbuh dari keluarga pengrajin batik membuat Siti menjadi tertarik dan semakin ingin mendalami tentang batik tulis.

“Bisa cinta batik itu karena lingkungan saya waktu kecil itu para pengrajin batik dan semua keluarga itu membuat batik, dari situ saya mulai suka,” ujar Siti saat ditemui di rumahnya di Desa Giriloyo, Bantul, DIY, baru-baru ini.

Pada awalnya Siti diajarkan untuk membuat pola-pola yang mudah seperti membuat gambar garis dan bunga. Namun lama-kelamaan kemampuan membatik Siti semakin meningkat dan bisa membuat pola-pola yang cukup rumit.

“Awalnya gambar yang mudah-mudah dulu seperti garis dan bunga, baru kalau sudah bisa diajarin lagi ke yang lebih sulit,” ujarnya.

Kecintaannya terhadap batik membuat Siti ingin tetap fokus dalam membatik. Namun rupanya takdir berkata lain.

Sekitar tahun 1980, tuntutan ekonomi membuat Siti harus berhenti sejenak untuk menekuni hobinya tersebut dan harus banting setir menjadi kuli panggul di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Pada saat itu Siti telah dikaruniai 2 anak sehingga tanggung jawab yang harus dipikulnya menjadi lebih berat.

Hari demi hari ia habiskan bekerja sebagai kuli panggul dan tak terasa sudah sekitar delapan tahun berlalu. Karena merasa tidak ada peningkatan dalam segi keuangan akhirnya ia dan suaminya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman Siti yang ada di daerah Bantul. Di kampung halamannya ini Siti memutuskan untuk mencari uang dengan cara membuat batik dan membuka jasa menjahit. Sedangkan suaminya bekerja sebagai petani.

Pekerjaan ini ditekuni keduanya, hingga tahun 2008 terjadi gempa bumi yang mengguncang daerah Yogyakarta dan sebagian wilayah pesisir selatan Jawa. Gempa ini menimbulkan kerusakan yang cukup parah di Yogyakarta.

Hal ini berdampak pada kehidupannya. Segala macam alat dan bahan yang digunakan untuk membatik, habis tertimbun reruntuhan bangunan. Kejadian ini sempat membuat Siti frustasi dan sedih. Namun ia tidak mau berlarut-larut tenggelam dalam kesedihan.

Setelah beberapa minggu setelah gempa itu terjadi, kemudian datanglah LSM yang berasal dari Australia. LSM ini membentuk sebuah paguyuban yang fokus terhadap pemberdayaan masyarakat dan pelestarian batik tulis di Yogyakarta.

Semangat membatik Siti mulai muncul kembali. Setiap hasil karya yang Siti buat selalu ia setorkan kepada paguyuban tersebut hingga pada tahun 2012 Siti mulai aktif dan menjadi anggota dalam paguyuban tersebut.

Harapan yang Siti Inginkan untuk sekarang adalah agar anak-anak muda saat ini mau berpartisipasi dan mendukung para pengrajin agar para pengrajin batik tulis semakin semangat dalam melestarikan batik tulis itu. (Merry fernand)

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge