0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Arsa, Suka Duka Jadi Pelatih Penunggang Kuda

(foto: Yuni Indra Chatarina)

Timlo.net – Suara sepatu kuda terdengar dari kejauhan. Terlihat pria berbadan tegap dengan boots berwarna oranye dengan sigap menuntun seekor kuda. Di atas pelana, duduk seorang perempuan muda sedang berlatih menunggang kuda.

Raden Arsa Santoso, sudah sekitar 10 tahun ini bergelut dengan dunia kuda. Dia cerita panjang lebar bagaimana dia bisa menjadi seorang pelatih penunggang kuda.

Dia bercerita, profesi yang dilakoninya ini berawal dari rasa penasaran dan keinginannya untuk bisa menunggang hewan ini. Akhirnya dia memutuskan untuk berguru dengan seorang atlet. Ia memilih pelatih yang benar-benar bagus menurutnya.

“Saya bener-bener milih yang bagus, kaya gitu. Karena itu memberikan jalan pintas tercepat untuk ambil ilmu,” jelas Arsa, saat ditemui di klub D’Paragon Horse & Riding Club, Tambak Boyo, Yogyakarta belum lama ini.

Arsa sudah menghabiskan sepuluh tahun dalam belajar menunggang kuda. Memulai segalanya dari nol, hingga dapat menjadi atlet, bahkan pelatih berkuda.

Baginya, menunggang kuda merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Bukan hanya karena memiliki sensasi sendiri ketika melakukannya, namun juga karena suasana yang berbeda ketika dapat menunggang kuda.

“Ketika udah naik kuda itu ada perasaan seneng banget. Ketika kita bisa pindah dari satu tempat ke tempat lain, dengan suasana yang berbeda, yang biasanya kita naik kendaraan motir atau mobil, tapi ini kita pakai makhluk hidup gitu. Jadi
ketika kita pakai transportasi kuda itu ada kaya kebahagiaan tersendiri gitu ketika kita bisa denger nafas kuda, langkah kuda, terus kita bisa ngerasain irama badan kuda,” terang dia dengan wajah yang sumringah.

Dia bertutur, banyak aspek yang harus diperhatikan ketika menunggang kuda, bagaimana memulai komunikasi dengan kuda, bagaimana memiliki sisi positif dan ketenangan ketika menunggang kuda, dan lain sebagainya. Sehingga dalam sepuluh tahun, Arsa merasa banyak sekali hal ia dapatkan ketika menunggang kuda.

Tidak hanya itu, ia pun belajar bagaimana melihat hobinya dapat menjadi bermanfaat. Hal itu kemudian ia rasakan hingga kini.

Di pagi hari, dia menjadi pelatih di sebuah sekolah dasar (SD) di Yogyakarta. Melatih anak-anak menunggang kuda, tentunya.

Setelah selesai dengan anak-anak, dia melanjutkan pekerjaan freelance sebagai pelatih juga. Setelah itu ia beristirahat
untuk kemudian menyiapkan dirinya untuk kembali melatih orang di klub D’Paragon Horse & Riding Club.

Pekerjaannya tentu membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Selain menghadapi berbagai tamu yang berbeda keinginan dan karakteristiknya sehari-hari, ia juga harus menghadapi kuda yang agak sulit untuk dimengerti. Meski kuda sudah jinak, namun tetap memiliki sisi liarnya ketika merasa terancam.

Hal ini biasa terjadi ketika penunggangnya tidak rileks dan memiliki ketakutan yang berlebih. Arsa harus ekstra sabar
ketika menghadapi orang yang seperti ini. Arsa harus pintar-pintar mengatur mood-nya ketika sedang melatih, sehingga tidak mempengaruhi mood tamunya.

Sepuluh tahun menunggang kuda membawa keberuntungan bagi Arsa. Tahun 2017 ia mendapatkan bonus yang ia tak sangka-sangka. Ia ditawarkan untuk bermain di salah satu film besar yang membutuhkan penunggang kuda.

Dari situ ia pun bertemu dengan berbagai tokoh yang sangat luar biasa, seperti Pevita Pearce, Heppy Salma, Donny
Alamsyah, dan sebagainya. Menurutnya, begitu banyak hal luar biasa yang selama ini ia dapatkan.

Namun, meski begitu tidak mudah baginya bekerja sebagai pelatih menunggang kuda. Banyak hal yang harus ia lewati, termasuk jatuh ketika berkuda, bahkan ditendang oleh kuda.

“Pernah juga ditendang, di sini, di paha. Waktu itu syukurnya ada handphone. Jadi handphonenya yang hancur, bukan kaki,” jelasnya tertawa sambil menunjuk pahanya.

Baginya hal itu merupakan pelajaran yang sangat berharga, bahwa meskipun hewan tesebut telah jinak, namun ia harus tetap waspada dengan hewan tersebut. Hewan tetap memiliki sisi liarnya ketika ia sedang merasa terancam.

Menjadi seorang pelatih mengunggang kuda memang tidak mudah. Sangat membutuhkan ketelatenan dan kesabaran dalam menghadapi kuda dan berbagai karakter setiap harinya. Namun, hal tersebut tidak masalah bagi Arsa. Baginya melakukan hal yang sesuai dengan hobi dan kesenangannya merupakan hal yang sangat luar biasa. (Yuni Indra Chatarina)

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge