0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sensasi Fun Tubing di Kampung Warna Warni

Seorang pengunjung tengah berfoto selfie di Kampung Warna Warni yang terletak di Desa Polan, Kecamatan Polanharjo, Klaten (dok.timlo.net/awijaya)

Klaten — Gerakan resik-resik kali atau bersih sungai yang dicanangkan Pemkab Klaten sejak Februari 2016 ternyata bukan hanya sekadar menjaga kebersihan sungai dari tumpukan sampah. Di Dukuh Ploso, Desa Polan, Kecamatan Polanharjo, warga menyulap aliran parit atau dalam bahasa Jawa disebut “Kalen” bagian dari bendungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo menjadi wahana wisata air.

“Jadi di sini itu ada Bendung Ploso Wareng yang dimanfaatkan komunitas River Tubing Pusur Adventrure (RPTA) sebagai destinasi wisata. Lantaran sering melihat mereka resik-resik kali, warga pun tertular dan tertarik memanfaatkan saluran air airnya menjadi destinasi,” ujar perwakilan warga Dukuh Ploso, Pranowo Andri Nugroho (34), Jumat (8/12).

Berada di tepi persawahan, saluran air untuk irigasi tersebut memiliki lebar sekitar 2 meter dengan panjang rute sejauh 300 meter. Masyarakat, khususnya anak- anak, bisa merasakan sensasi permainan fun tubing dengan menggunakan ban karet sebagai pelampung. Tak heran, sensasi mengikuti arus parit tersebut dinamakan wahana “Keli Kalen” atau hanyut di parit.

“Kalau yang dewasa bisa memacu adrenalin di sepanjang Kali Pusur yang meintasi Bendungan Ploso Wereng. Kalau yang anak-anak cukup fun tubing saja di Keli Kalen,” ujar Andri.

Selain membersihkan sungai, masyarakat juga menyulap dinding rumah mereka dengan berbagai gambar dan lukisan warna-warni. Aksi mengecat rumah secara swadaya tersebut bermula dari penilaian lomba desa ramah lingkungan yang berlangsung sekitar Mei- Juni lalu.

“Ada sebanyak 70 rumah milik warga di Dukuh Ploso ini sepakat dijadikan Kampung Warna-Warni pertama di Klaten. Jadi sembari menunggu atau selesai fun tubing, pengunjung bisa berfoto selfie. Di sisi lain, dampak bagi warga ialah harus menjaga kebersihan sungai dan lingkungan Kampung Warna-Warni ini,” imbuh Andri.

Pendapat serupa juga disampaikan warga lainnya, Sudarti (54). Ia mengatakan, keberadaan wahana Keli Kelen dan Kampung Warna-Warni merupakan bagian dari pengembangan Polan sebagai Desa Wisata pada tahun 2018 mendatang.

“Kalau dinding rumah saya di cat kupu-kupu. Sedangkan dulu itu kalau dipandang mata banyak dinding rumah warga yang terlihat kumuh maupun berlumut. Namun sekarang jadi bersih dan nyeni. Apalagi yang semula buang sampah ke sungai menjadi segan,” ujar pengurus PKK Desa Polan ini.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge