0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Paparan Hadi Tjahjanto di Depan Komisi I DPR

Hadi Tjahjanto (merdeka.com)

Timlo.net – Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Hadi Tjahjanto memberikan paparan di hadapan Komisi I DPR, Rabu (6/12). Dia menjalani uji kelayakan dan kepatutan sebagai calon Panglima TNI.

Mengawali paparannya, Hadi menjelaskan soal konstalasi global kontemporer yang berpotensi mengancam ketahanan dan pertahanan negara. Catatan pertama mengenai tatanan dunia baru.

Melemahnya hegemoni negara adidaya karena kekuatan ekonomi baru seperti China, Rusia, India, dan Brasil membentuk tatanan dunia baru yang berpengaruh terhadap keamanan global.

“Selain itu karena kepentingan menjadi keutamaan maka aliansi tersebut dapat dimungkinkan untuk melintas ideologi. Sementara itu kepemimpinan negara baru super power telah mengubah pola komitmen terhadap keamanan global,” kata Hadi di DPR, Jakarta, Rabu (6/12).

Kondisi ini diperparah dengan adanya aktor-aktor non negara yang membawa kepentingan kelompok dikemas dalam wujud ideologi, agama, suku hingga ekonomi.

“Wujud nyata dari realitas ini adalah munculnya instabilitas di beberapa kawasan yang sedianya berada dalam kendali seperti di Timur tengah Irak dan Suriah. Termasuk ISIS di Filipina. Dan krisis nuklir di Korut,” ujarnya.

Potensi ancaman berikutnya yakni terorisme. Menurutnya, semua negara rentan terhadap ancaman teroris.

Bahkan, terorisme kerap dijadikan alat untuk menguasai suatu wilayah yang berujung pada perang melibatkan pihak ketiga. Contohnya yang terjadi di Irak dan Suriah.

“Beberapa kasus seperti di Suriah dan Irak terorisme terbukti berujung pada proxy war atau hybrid war,” tegasnya.

Lewat perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, Hadi menyebut para teroris semakin mudah menyebarkan paham radikal ke semua negara.

“Melalui berbagai medsos dan jaringan media internet lainnya, host dari kelompok teroris telah mampu secara cepat menyebarkan pengaruh. Dan bahkan mengaktifkan sel tidur atau pun simpatisannya di seluruh dunia demi mendukung kepentingannya,” ungkapnya.

Hadi melanjutkan, ancaman ketiga yakni perang siber. Ancaman perang siber dianggap sama bahayanya dengan senjata kinetik. Untuk itu, Hadi menganggap perkembangan dunia siber harus dijadikan pertimbangan dalam fungsi ketahanan dan keamanan nasional.

“Pada sisi lainnya hal tersebut menunjukkan bahwa keamanan dimensi cyber harus menjadi pertimbangan utama dalam penyelenggaraan fungsi-fungsi pertahanan dan keamanan nasional,” ucap Hadi.

Keempat, berkaitan dengan pesatnya kebangkitan China. Hadi menilai negeri tirai bambu telah mengubah konstalasi politik dunia dalam waktu singkat lewat ekonomi dan militer.

“Tiongkok berupaya mengemas kebangkitan fenomenalnya itu dengan slogan yang diviralkan oleh pemerintahnya sebagai china charm offensive,” ucapnya.

Ini membuat China bertindak agresif mengekspansi beberapa kawasan. Contohnya ambisi untuk menguasai Laut Cina Selatan. Hadi berujar China telah membuat pangkalan militer di sejumlah kawasan yang masih sengketa.

“Melalui ketiga pangkalan tersebut dan di Pulau Hudi, Tiongkok diperkirakan akan mampu menyelenggarakan perang di seluruh wilayah Laut Cina Selatan,” jelas Hadi.

Mantan Sekretaris Militer Presiden ini mengungkapkan potensi terakhir adalah kerawanan di laut Indonesia. TNI bertanggung jawab atas kerawanan laut Indonesia dari ancaman dari luar dan dalam.

Bukti dari ancaman di wilayah laut yakni perampokan bersenjata dan penculikan di wilayah perairan Filipina Selatan yaitu sekitar Laut Sulu oleh kelompok Abu Sayyaf.

“Kerawanan di laut sebagai negara kepulauan. Indonesia bertanggungjawab atas keselamatan dan keamanan di wilayah laut yang menjadi yuridiksinya termasuk pada laut-laut bebas yang berbatasan langsung dengan wilayah tersebut,” tambahnya.

Saat ini, proses uji kelayakan dan kepatutan dilanjutkan paparan program strategis TNI ke depan dari Hadi. Rapat digelar secara tertutup.

[noe]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge