0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Nur Sa’adah, Sosok di Balik Kesuksesan Marsekal Hadi Tjahjanto

Hadi Tjahjanto (merdeka.com)

Timlo.net – Nur Sa’adah, ibunda calon Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, menceritakan kehidupan Hadi saat masih kecil. Sejak lahir dan tumbuh, Marsekal Hadi Tjahjanto hidup di lingkungan TNI Angkatan Udara (AU) di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ayahnya juga seorang anggota TNI AU dengan pangkat terakhir Sersan Mayor (Serma).

Hadi kecil tinggal di lingkungan Perumahan Pancar Gas yang dihuni oleh para personel TNI AU. Sekolahnya pun dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) hingga SMP tidak jauh dari tempat tinggalnya.

“Ya memang kepingin jadi tentara AU, mungkin karena melihat bapaknya. Lingkungannya juga lingkungan TNI AU,” kata Nur Sa’adah, ibunda Marsekal Hadi Tjahjanto di rumahnya, Desa Tamanharjo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (5/12).

Nur Sa’adah yang didampingi suaminya, Serma (Pur) Bambang Sudarto menceritakan tentang pribadi anaknya yang pendiam, banyak disukai teman-temannya. Anaknya sederhana dan tidak punya keinginan yang muluk-muluk.

“Tidak pernah muluk-muluk. Waktu mendaftar di Taruna itu bilang, Nggak apa-apa jadi yang nomor belakang, yang penting bisa masuk. Tidak ranking tidak apa-apa, kalau mungkin diambil 40 orang, saya yang nomor 40 tidak apa-apa,” kisahnya.

Sementara Bambang, menceritakan kalau keinginan Hadi menjadi tentara sejak dari kecil. Suatu saat, dirinya mengaku membawa pulang senjata jenis brand 12,7 ke rumahnya.

“Senjata itu dinaikkan, sambil teriak ‘besok aku jadi tentara’. Akhirnya benar-benar keinginan menjadi tentara terwujud. Karena memang lingkungannya Angkatan Udara,” katanya.

Hadi Tjahjanto sendiri merupakan anak pertama dari lima bersaudara keluarganya. Adik Hadi, Artiningsih Tjahjanti seorang bidan, Budi Cahyono (Wiraswasta), Wahyu Cahyadi (TNI AU) dan Heni Cahyani (dinimahi TNI AU).

“Semua anak mengambil nama dari ibunya yang saya Indonesia. Nur kan cahaya, jadi anak saya pakai cahaya. Mengikuti ibunya, Nur,” katanya.

Kalau empu itu bertugas membuat keris agar beryoni dan punya kekuatan. Hampir sama dengan empu, perempuan membuat anak-anaknya menjadi punya budi pekerti dan pintar sekolahnya.

“Semua itu didikan ibunya, karena itu semuanya takut sekali kalau sama ibunya,” jelas Bambang.

[fik]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge