0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Angon Putu, Tradisi yang Nyaris Terlupakan

Mbah Wasikem angon putu di Pasar tawangsari (foto: Putra Kurniawan)

Sukoharjo – Keluarga besar trah Wasikem Narto Wiyono (80) yang berjumlah 64 orang menggelar ritual Angon Putu di Pasar Bulu, Sabtu (2/12). Momen ini dimanfaatkan untuk berkumpul seluruh anggota keluarga yang selama ini sudah menyebar tinggal di luar kota.

“Tradisi ini sudah sangat jarang yang melakukan dan hampir punah kalau tidak dilestarikan. Dan Mbah Wasikem masih ingin melestarikan tradisi ini,” kata anak tertua Mbah Wasikem, Sugeng (63), Sabtu, (2/12).

Acara Tradisi Angon Putu dimulai dengan sungkem kepada Mbah Wasikem oleh seluruh anak, cucu, cicit dan canggah yang berjumlah 64 orang. Setelah itu, Mbah Wasikem yang mengenakan pakaian kebaya dan memakai caping serta membawa cambuk mengajak anak cucunya ke Pasar Tawangsari.

Mbah Wasikem memberikan uang saku kepada anak cucunya dan membebaskan mereka membeli jajanan pasar apa saja yang disukainya. Uang Sangu (saku) yang diberikan kepada anak cucunya adalah uang Mbah Wasikem sendiri, dan setelah puas jajan di pasar, mereka digiring kembali ke rumahnya di Desa Kamal, kecamatan Bulu.

“Biasanya kita sulit bisa kumpul lengkap seperti ini, bahkan saat lebaran pun kita tidak bisa kumpul semua. Justru dengan tradisi Angon Putu ini malah bisa kumpul semua dan bisa kembali akrab meskipun ada yang hampir bertahun-tahun tidak ketemu, dan juga bisa mengobati rindu masa kecil,” tandas cucu Mbah Wasikem, Sudarmono.

Angon putu ini sebenarnya bagian dari upacara Tumbuk Ageng. Upacara yang menandakan siklus kehidupan masyarakat Jawa menjelang tua, biasanya saat berumur 64 atau 80-an tahun.

Tradisi Angon Putu adalah wujud rasa syukur sebuah keluarga atas keberkahan pada dirinya dan para cucu yang biasanya diadakan jika cucunya sudah mencapai sekitar 25 orang.

Ada tiga serangkaian acara Tumbuk Agung yaitu Angon putu, Congkogan, dan Andrawina. Ketiganya mengisyaratkan sebuah perjalanan hidup seseorang yang sudah tua. Mulai dari momong putu, dibopong anaknya hingga simbol kepasrahan orangtua pada Tuhan.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge