0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Noktah Hitam Penyelenggaraan Sekaten 2017

ilustrasi sekaten (timlo.net/redaksi)

Solo – Perhelatan tahunan yang digelar untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad, Sekaten tahun ini dinodai dengan kasus dugaan penipuan dan penggelapan oleh panitia. Salah satu pejabat Keraton, KGPH Benowo selaku Pengageng Pariwisata dan Koordinator Pedagang Pesta Rakyat Sekaten, Robby Hendro Purnomo ditetapkan sebagai tersangka kasus tersebut.

Timlo.net sempat menghubungi KGPH Benowo pada 11 November lalu. Saat itu, ia mengaku sedang sibuk menggalang dukungan untuk salah satu calon gubernur di Jawa Timur.

Ia mengatakan Sekaten tidak memerlukan persiapan yang muluk-muluk. Pedagang cukup ditempatkan di jalanan di kanan kiri Alun-alun Utara. Namun ia saat itu mendesak agar Pemkot segera membongkar kios-kios pasar darurat yang sudah tidak digunakan.

“Kalau memang sudah tidak dipakai ya dibongkar supaya bisa untuk pasar malam,” kata Benowo.

Mendekati penyelenggaraan Sekaten, kios-kios pedagang pasar malam mulai digelar. Seperti rencana, lapak mereka dibangun mengelilingi Alun-alun Utara dan sepanjang Jalan Pakubuwana. Sebagian berada di depan pintu gerbang Masjid Agung.

Tak disangka, sejumlah kios dan beberapa wahana permainan mendadak digelar di lahan parkir pasar darurat. Tepatnya di sudut Barat Daya Alun-alun Utara. Pemilik wahana mengaku telah mendapat izin dari Robby selaku koordinator. Padahal status Alun-alun Utara masih disewa Pemkot hingga November 2018.

Saat dikonfirmasi pada 22 Oktober, Pengageng Parentah Keraton Surakarta, KGPH Dipokusumo mengaku tidak tahu-menahu mengenai wahana permainan tersebut. Ia mengarahkan wartawan untuk bertanya kepada Pengageng Pariwisata, KGPH Benowo.

“Kalau yang di Alun-alun Utara silahkan tanya Gusti Benowo. Saya hanya memberi izin yang di Selatan,” kata dia.

foto: Ichsan Rosyid

Melihat lahan yang sudah disewanya dipakai berjualan, Pemkot meminta wahana permainan dibongkar. Kios-kios pedagang digeser ke tempat lain. Pasalnya, lahan tersebut dialokasikan untuk parkir pasar darurat.

Para pedagang kecewa dan merasa tertipu karena telah membayar sejumlah uang sewa kepada panitia. Nilainya bervariasi antara Rp 600 Ribu hingga Rp 9 Juta. Mereka menuntut uang mereka dikembalikan.

Sejak saat itu, Benowo mulai sulit dihubungi. Setiap wartawan mencoba menghubunginya selalu berujung pada mailbox.

Wartawan hanya bisa berkomunikasi dengan Robby selaku koordinator yang ditunjuk Benowo. Untuk mendukung klaimnya, Robby menunjukkan surat kuasa No 001/KKSH/XI/2017 yang ditandatangani Benowo. Surat bertanggal 20 November 2017 itu menggunakan kop surat dan stempel Keraton Surakarta.

Saat itu ia mengupayakan agar Pemerintah Kota mengizinkan pedagang menggunakan Alun-alun untuk berjualan hingga malam hari.

“Pembongkaran tetap kami lakukan sesuai perintah pak Wali (Walikota-red). Tapi kami akan mengajukan proposal permohonan perpanjangan jam operasoinal,” kata Robby.

foto: Ichsan Rosyid

Desakan pedagang menuntut ganti rugi kian kuat. Menyusul Benowo, Robby ikut menghilang tak bisa dihubungi.

Sejak Senin, nomor keduanya bahkan sudah tidak aktif lagi. Belakangan diketahui dua orang tersebut sudah ditahan di Mapolresta Surakarta. Namun kepastian soal penahanan keduanya baru dikonfirmasi polisi hari ini.

Kamis (30/11) kemarin, Kuasa Hukum Keraton Surakarta, KP Ferry Firman Nurwahyu menegaskan Keraton tidak membentuk kepanitiaan Sekaten. Ia berdalih Pesta Rakyat Sekaten hanya diselenggarakan di Alun-alun Selatan. Soal surat kuasa yang menggunakan kop dan stempel Keraton, Ferry menjelaskan surat tersebut tidak resmi dari Keraton.

“Kalau memang dari Keraton, yang tanda tangan harusnya Sinuhun,” kata dia.

Menyusul penahanan Benowo, Keraton menyediakan bantuan hukum untuk salah satu adik Raja Pakubuwana XIII itu. Ferry mengaku telah mengajukan surat permohonan untuk tidak ditahan kepada Polresta Surakarta, Polda Jawa Tengah, hingga Pemerintah Kota Solo. Hasilnya nihil.

“Nyatanya sekarang masih ditahan,” kata dia.

Mencuatnya kasus ini tak ayal langsung sampai ke telinga kerabat keraton. Bahkan perkara tersebut sempat menjadi bahan pembicaraan di internal keluarga. Meski demikian, Keraton tidak mau disangkutpautkan dengan kasus tersebut.

Keluarga berharap kasus ini segera diselesaikan sesuai prosedur hukum yang berlaku.

“Kasus ini menyangkut Gusti Benowo dengan pihak ketiga (Robby). Jadi biar semua diselesaikan secara hukum. Yang jelas kami ikut prihatin,” kata salah satu kerabat Keraton, KGPH Suryo Wicaksono.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge