0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bondan Winarno Merasa Memiliki Solo, karena Alasan Ini

(Bondan Winarno)

Bondan Winarno, meninggal  dunia Rabu (29/11/2017) setelah sakit beberapa waktu. Meski lahir di Surabaya dan tinggal di Jakarta, Bondan sebenarnya punya kedekatan khusus dengan Kota Solo.  Dia bahkan ingin membantu menyemarakkan dunia kuliner di Kota Solo.

Ketika itu, sekitar tahun 2010, Bondan masih cukup sering wira-wiri ke Solo. Selain untuk menengok salah satu gerai Kopitiam Oey (belakangan namanya berubah menjadi Kopi Oey) atau aktivitas bisnis lainnya, tentunya juga menjelajahi tempat-tempat makan enak yang membuatnya dikenal sebagai pakar kuliner.

“Tolong, jangan sebut saya pakar.  Saya hanyalah seseorang yang menikmati dunia kuliner dan rajin mencatat. Setelah melakukannya bertahun-tahun, jadi tahu banyak dan bisa bercerita,” ujarnya saat berbincang santai sambil sarapan di salah satu warung soto di kawasan Kawatan.

Tentang Kota Solo, Bondan yang lahir di Surabaya tanggal 25 April 1950, mengaku menyimpan perasaan rumangsa handarbeni atau merasa ikut memiliki.

“Alasannya, tentu karena saya orang Jawa, sedangkan Solo ini bisa disebut sebagai pusatnya kebudayaan Jawa. Saya sangat mengapresiasi, bahkan sampai dengan tahun 2000-an sebelum Keraton Surakarta mengalami retak internal, saya aktif mengikuti sejumlah ritual di sana,” tutur Bondan yang pada tahun 2007 mendapat status sentanadalem (kerabat raja) bergelar Kanjeng Pangeran Mangkudiningrat.

Ritual yang diikuti Bondan, antara lain mubeng beteng setiap malam 1 Sura, juga pisowanan agung, ketika sentana dan abdidalem bertemu dengan Sinuhun di Sasana Sewaka Keraton Surakarta.

Bondan pun membandingkan kualitas hidup warga Jakarta dan Solo yang berbeda jauh. Hidup di Solo menurutnya lebih nyaman karena bebas kemacetan. Karena itulah, Bondan, setiap kali datang ke Solo tak pernah lupa membawa sepatu joggingnya.

Tetapi, kecintaan Bondan terhadap Solo semakin menjadi ketika melihat kota ini semakin cantik setelah digarap oleh Walikota Joko Widodo (Jokowi).

“Yang luar biasa, Pak Jokowi mengangkat pasar-pasar tradisional dan mengubahnya menjadi kawasan ekonomi rakyat yang hidup. Seperti itulah seharusnya. Saya berharap bisa bertemu lagi Pak Jokowi dan berkontribusi untuk menjadikan Solo semakin indah dan nyaman,” tuturnya.

Sayangnya, niat bertemu dan membantu Jokowi tak pernah kesampaian. Tidak lama setelah itu, Jokowi terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sedangkan Bondan bergabung sebagai Caleg dari Partai Gerindra, namun gagal masuk ke parlemen.

“Niat saya mencalonkan diri ke DPR, ingin meningkatkan kesejahteraan rakyat terutama di bidang pangan. Mengapa Gerindra, karena merekalah yang menawarkan, dan saya mencalonkan diri tanpa dipungut biaya atau persyaratan apapun,” jelasnya.

 

Editor : Ari Kristyono

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge