0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Adang Tahun Dal di Sekaten Tahun Ini. Apa Artinya?

KGPH Dipokusumo menggelar jumpa pers di Sasana Putra, Rabu (22/11) (foto: Rosyid)

Solo — Upacara Adang Tahun Dal akan mewarnai Sekaten tahun ini. Dalam upacara ini, Raja Keraton Kasunaan Surakarta akan menanak nasi menggunakan Dandang Kyai Duda untuk kerabat dan abdi dalem Keraton. Sederhana. Namun rupanya upacara ini berakar dari legenda Nawang Wulan dan Jaka Tarub, leluhur Dinasti Mataram.

“Kita napak tilas leluhur kita Nawang Wulan dan Jaka Tarub,” kata Pengageng Parentah Karaton Surakarta, KGPH Dipokusumo saat jumpa pers di Sasana Putra, Rabu (22/11).

Menurut legenda, pasangan bidadari dari kayangan dan pemuda desa sederhana itu awalnya hidup bahagia. Karena berasal dari kayangan, Nawang Wulan hanya membutuhkan sebutir beras setiap kali menanak nasi untuk keluarga. Syaratnya, Nawang Wulan harus menyembunyikan kesaktiannya itu. Termasuk dari suaminya, Jaka Tarub.

Terusik rasa penasaran, Jaka Tarub pun diam-diam membuka dandang yang digunkan sang istri saat menanak nasi. Karena kelancangannya itu, kesaktian Nawang Wulan menghilang. Sejak itu, keluarga Jaka Tarub dan keturunannya harus menanak nasi seperti biasa. Dengan takaran normal.

“Pelajarannya, meskipun sudah menjadi suami istri, privasi harus tetap dijaga,” terang pria yang akrab disapa Dipo itu.

Lantas apa hubungan Adang Tahun Dal dengan Sekaten, peringatan maulid Nabi Muhamad? Dipo menguraikan bahwa hal itu berkaitan dengan sistem penanggalan Jawa yang diprakarsai Sultan Agung Hanyakrakusuma. Seperti diketahui, Nabi Muhammad diperkirakan lahir tahun 571 Masehi. Menurut perhitungan dengan sistem penanggalan Jawa, Nabi Muhammad lahir tepat pada hari Senin Pon Bulan Mulud, Tahun Dal.

“Jadi besok Senin itu pas sekali dengan weton (hari kelahiran) Nabi Muhammad,” kata dia.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge