0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

ISI Angkat Pakeliran Padat Jadi Produk Karya Seni Andalan

Sugeng Nugroho (foto: Tyo Eka)

Solo – Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bekerja sama dengan Direktorat Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menggelar kegiatan Apresiasi Seni yang akan membahas Pergelaran Pakeliran Padat.

“Kegiatan yang akan dilakukan berupa Seminar, Lokakarya, dan Pergelaran Pakeliran Padat,” ungkap Ketua Panitia Apresiasi Seni, Dr. Sugeng Nugroho kepada wartawan, di kampus ISI Surakarta, Solo, Rabu (22/11).

Tujuannya, kata Sugeng, untuk mengangkat citra pakeliran padat yang merupakan produk karya seni andalan Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan kampus tersebut.

Sugeng mengemukakan, pakeliran padat, menurut penggagasnya (S.D. Humardani), bukan sekedar pertunjukan wayang yang durasi pertunjukannya dipersingkat menjadi satu sampai dua jam.

Pakeliran padat merupakan sebuah format pertunjukan wayang yang menyelaraskan antara ‘wadah’ (garap unsur-unsur pakeliran) dan ‘isi’ (tema dan amanat yang tertuang di dalam sanggit lakon). Pakeliran padat tidak sekedar mengungkap peristiwa lakon, tetapi menggarap permasalahan yang dihadapi oleh tokoh utama di dalam peristiwa lakon.

Tokoh-tokoh lain yang dihadirkan, baik protagonis maupun antagonis, juga harus mendukung kehadiran tokoh utama. Tidak ada tokoh lain yang ditampilkan sekedar mengisi peristiwa lakon.

“Oleh karena itu urutan adegannya tidak lagi terpola seperti dalam pakeliran tradisi semalam suntuk, meliputi jejer – babak unjal – bedholan, kedhatonan, paséban jawi – budhalan – perang ampyak, adegan sabrang, perang gagal, adegan sabrang rangkep, adegan sanga sepisan, perang kembang, adegan sintrèn, perang sampak tanggung, adegan manyura sepisan, adegan manyura pindho, perang manyura, candhakan, perang brubuh, diakhiri adegan panutup,” jelasnya.

Menurut Sugeng, sebuah karya seni akan dikatakan ‘hidup’ apabila keberadaannya diakui oleh masyarakat, tidak hanya sebagai karya hayatan estetis tetapi juga mampu menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat.

“Oleh karena itu, dengan diadakan Seminar, Lokakarya, dan Pergelaran Pakeliran Padat diharapkan dapat ber¬manfaat bagi pengembangan karya pedalangan dalam rangka penyesuaian diri dengan tuntutan zaman yang selalu berubah,” ujarnya.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge