0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Khofifah Menunggu Waktu untuk Deklarasi di Pilgub Jatim

Khofifah Indar Parawansa (merdeka.com)

Timlo.net – Deklarasi pencalonan Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim 2018 belum dilakukan. Perempuan yang kini menjabat sebagai Menteri Sosial itu juga belum bisa memastikan kapan deklarasi dilakukan.

“Kalau saya ASA, as soon as posible,” kata Khofifah di Pendopo Pringitan Kabupaten Malang, Senin (20/11).

Khofifah menegaskan, proses penentuan pendamping dirinya di Pilgub Jatim sedang berjalan. Pembicaraan sedang berlangsung di tingkat para pemimpin partai politik.

Jika pembicaraan dinyatakan final baru akan diumumkan dan dilanjutkan deklarasi. Saat sekarang, sedang dalam tahap memusyawarahkan calon wakil.

“Kita akan update kalau sudah final,” katanya.

Khofifah yang juga Ketua Muslimat NU ini enggan menyebut secara langsung nama-nama kandidat yang akan mendampinginya. Nama-nama itu katanya akan diumumkan setelah disepakati oleh para partai pengusung.

“Saya tidak punya kewenangan menyebut nama, karena sedang dimusyawarahkan dengan seluruh partai politik,” terangnya.

Tim sembilan pimpinan KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah telah melakukan penyaringan 10 bakal calon wakil yang akan dipasangkan dengan Khofifah. Dari nama-nama yang dijaring, mengerucut dua nama yang hingga saat ini masih dirahasiakan oleh para kiai pendukung Khofifah.

Namun ‘berseliweran’ dua nama dimaksud adalah putra Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Bupati Trenggalek, Emil Dardak. Selain itu juga muncul nama Ipong Muchlisoni (Bupati Ponorogo).

Khofifah sendiri tampak hadir didampingi salah satu anggota tim sembilan, Nyai Mutammimah Hasyim Muzadi. Mereka sempat menggelar pertemuan bersama Ketua DPW NasDem yang juga Bupati Malang, Rendra Kresna.

Di satu sisi, situasi memanas mengiringi munculnya dua nama sesama kader Nahdlatul Ulama (NU) dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Para kiai dan pesantren dipastikan terlibat dalam aksi dukung-mendukung calon masing-masing.

Khofifah menilai kondisi tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Keterlibatan para kiai dalam perjalanan sejarah dan Politik selama ini telah membuktikannya.

“Proses berdemokrasi di lingkungan kiai sudah sangat advace,” tegasnya.

Sebelumnya, KH Sholahudin Wahid melontarkan kekhawatirannya atas majunya dua kader NU. Pernyataan itu disampaikan Gus Sholah, dalam sambutannya di acara pelantikan pengurus HISSNU, Minggu (12/11). Pihaknya menilai kondisi tersebut kurang baik dengan kemungkinan munculnya gesekan sesama tokoh NU.

“Saya rasa hari ini, kita sudah belajar puluhan tahun tentang bagaimana berdemokrasi. Ketika NU menjadi partai dan berafiliasi ke PPP maka kiai-kiai NU sebagian besar yang punya passion di politik berafiliasi ke PPP, ” jelas Khofifah.

Seiring waktu, hingga akhirnya KH Abdurachman Wahid (Gus Dur) mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Para kiai pun menyikapi dengan berbeda-beda yang menunjukkan kedewasaan dalam bersikap dan berpolitik.

“Sejak itu kita sudah melihat bahwa ada afiliasi yang berbeda-beda, ada yang tetap istiqomah di PPP seperti KH Maemun Zubair, ada yang kemudian ke PKB. Tapi jangan lupa, ada yang terafiliasi juga ke Golkar saat itu,” katanya.

Seperti diketahui, dua kader NU hampir dipastikan akan berhadapan dalam Pilgub Jatim 2018. Ketua Muslimat NU yang juga Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa diusung oleh Partai Nasdem, Partai Golkar, PPP dan Partai Demokrat.

Sementara Syaifullah Yusuf, salah satu Ketua NU memastikan maju berdampingan dengan tokoh muda NU, Abdullah Azwar Anas. Keduanya diusung oleh PKB dan PDIP.

“Proses itu bisa dibedakan oleh para kiai. Sangat banyak juga kan kiai yang tidak teraviliasi dengan kekuatan partai politik mana pun,” tambah Khofifah menegaskan.

[rzk]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge