0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dongkrak Ekspor Mebel, Ini yang Dilakukan Pemerintah

Launching Omah Mebel dan Kerajinan ()

Solo — Nilai ekspor produk mebel dan kerajinan yang menurun sejak 2015 menjadi perhatian serius pemerintah. Menyikapi kondisi itu, pemerintah melalui Kementrian Perindustrian menyiapkan sejumah strategi untuk membantu para pelaku usaha.

“Untuk meningkatkan promosi online, kami sudah meluncurkan program e-smart IKM. Selain tujuan promosi, program ini dapat meningkatkan kapasitas pelaku IKM dalam negeri di bidang e-commerce,” ujar Direktorat Jenderal (Dirjen) Indusri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Gati Wibawaningsih di sela acara launching Omah Mebel dan Kerajinan KIMKAS di Solo, Senin (20/11).

Dengan adanya program itu, ia menyampaikan hingga September 2017 sudah lebih dari 1600 pelaku IKM dari berbagai daerah mengikuti workshop atau pelatihan pemanfaatan e-smart IKM. Tidak hanya program pelatihan dan promosi yang terus digalakkan, pemerintah juga memberikan bantuan alat produksi kepada para pelaku IKM guna meningkatkan produktivitas barang yang dihasilkan.

“Saat ini nilai ekspor produk mebel dan kerajinan secara nasional sebesar 1,06 juta US Dollar. Kita tergetkan dengan upaya yang kita lakukan ini pada tahun depan bisa mencapai 2 juta US Dollar, dengan demikian target 2,5 miliar US Dollar pada 2019 bisa tercapai,” jelasnya.

Gati juga menyampaikan, terkait dengan banyaknya regulasi yang tumpang tindih dan perijinan yang dianggap kurang efisien secepatnya akan disederhanakan. Salah satunya adalah soal SVLK, pemerintah akan menyiapkan material center untuk memudahkan persoalan bahan baku dan perijinan.

“Jadi dengan adanya material center itu, semua kebutuhan bahan baku dan SVLK mereka yang menangani. Sehingga industry hilir atau pelaku usaha di luar itu tidak perlu menyiapkannya,” jelasnya.

Sementara itu, Penasihat KIMKAS sekaligus Ketua HIMKI Soloraya Adi Dharma S menyampaikan, kendati nilai ekspor pada 2016 mengalami penurunan, tapi untuk periode saat ini sudah mulai ada perbaikan. Hal itu karena kondisi ekonomi global relatif lebih stabil dan membaik jika dibanding sebelumnya.

“Jika dibandingkan tahun sebelumnya, nilai ekspor saat ini naik sekitar 15 persen. Alasannya karena kondisi pasar di Amerika cenderung membaik setelah pemilihan presiden selesai. Bahkan kita juga kelimpahan permintaan, setelah pemerintah Amerika menaikan pajak untuk produk dari China ,” tandasnya.

Ia menyebut, kebutuhan pasar ekspor di Amerika saat ini memberikan kontribusi sekitar 50 persen. selebihnya di Eropa, Afrika dan pasar baru lainnya. Selain menggarap pasar ekspor, pihaknya juga mulai fokus untuk menggarap pasar dalam negeri.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge