0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dipukul dengan HT Saat Hindari Razia, Pemuda Ini Meninggal

ilustrasi (merdeka.com)

Timlo.net — Operasi Zebra yang dilakukan Satlantas Polres Bulukumba, Sulawesi Selatan, memakan korban jiwa. Seorang warga bernama Zaenal Abidin (19), meninggal setelah sempat menjalani perawatan usai diduga dianiaya polisi saat menggelar operasi Zebra 2017.

“Anak saya meninggal di Rumah Sakit Faisal Makassar, kemarin, kira-kira pukul 12.50 WITA, saat itu tidak sadar katanya koma waktu dibawa ke rumah sakit,” ujar Ibu kandung korban, Dahlia, Senin (6/11).

Kejadian tersebut terjadi saat korban terjaring razia dalam operasi Zebra 2017 pada Sabtu (4/11) sekira pukul 11.00 WITA. Razia itu digelar Satlantas Polres Bulukumba di Desa Tabuttu, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Sulsel.

Dahlia menuturkan, anaknya kala itu berpamitan akan berangkat ke Kota Kabupaten Bulukumba dari rumahnya di Kecamatan Ujungloe. Setelah berangkat bersama rekannya berboncengan ditengah perjalanan menemukan razia, rekannya kemudian kaget langsung memutar balik.

Namun saat ingin berbalik arah untuk menghindari razia, petugas berhasil menahan mereka. Anaknya kemudian dibawa lalu dipukuli petugas dengan alasan polisi ingin melarikan diri saat operasi.

“Zaenal bilang dipukul pake HT (Handy Talky) di kepalanya, saat dirumah beberapa kali muntah, lalu pingsan, saya bawa ke Puskesmas Ujungloe, tapi pihak puskemas menulis rujukan ke RS Sultan Dg Raja Bulukumba, tapi karena gawat dirujuk ke Rumah Sakit Faisal Makassar, tidak lama anak saya meninggal,” ucapnya terisak sedih.

Meski dirinya tidak terima dengan kejadian menimpa anaknya, namun Dahlia berharap agar kepolisian tidak menyepelekan masalah tersebut. Dia meminta anggota polisi sebagai pelaku utama menghilangkan nyawa anaknya segera diproses hukum, walaupun pimpinannya telah meminta maaf dan siap bertanggungjawab.

“Semoga pelaku anak saya bisa mendapatkan hukuman setimpal dengan perbuatannya. Apakah memang polisi seperti itu saat razia dan harus memukul orang sampai meninggal,” harapnya.

Sementara Kapolres Bulukumba Kapolres Bulukumba AKBP M Anggi Naulifar Siregar mengatakan, siap bertangungjawab atas kejadian tersebut dan akan memberikan sanksi kepada polisi yang dimaksud.

“Saya selaku Kapolres memohon maaf atas kejadian ini. Saya bertangungjawab kepada keluarga korban. Untuk anggota yang terlibat sudah dalam proses pemeriksaan. Dan anggota tersebut mengakui dan siap menerima sanksi dan hukuman yang berlaku,” katanya saat dikonfirmasi wartawan.

Kejadian ini pun mengundang reaksi anggota DPR Akbar Faizal. Akbar telah menghubungi Kapolda Sulsel Irjen Muktiono serta pihak Polres Bulukumba untuk segera menyelesaikan persoalan itu. Dirinya juga prihatin atas prosedur penanganan kepolisian saat razia yang diduga menggunakan kekerasan.

“Informasi saya terima, katanya almarhum dan rekannya dihalau petugas saat razia, saat itu ada petugas menggunakan HT, rekannya menunduk sehingga tangan petugas yang memegang HT mengenai pelipis korban,” katanya melalui pesan singkatnya.

Terkait dengan kejadian itu, kata legislatior Dapil 2 Sulsel (Kabupaten Sinjai, Bone, Maros, Bulukumba, Pangkep, Barru, Soppeng, Wajo, dan Kota Parepare) mengatakan pihak Polres telah mengambil langkah-langkah kemanusiaan dengan menemui keluarga korban termasuk mengurusi pemakamannya.

Kapolres Bulukumba ikut mengantar jenazah korban ke Jeneponto, tanah kelahiran Zaenal Abidin. Sementara petugas yang bersangkutan sudah diproses dan sudah ditahan. Sementara dari Propam Polda telah diturunkan guna menyelidiki kasus ini.

“Petugas yang melakukan itu mengakui atas tindakannya meski tanpa unsur kesengajaan dan siap bertanggungjawab menerima risiko dari tugasnya sebagai polisi,” kata Akbar.

[gil]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge