0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Istri Petinggi ISIS Filipina Berwarganegara Indonesia

Minhati Madrais (merdeka.com)

Timlo.net – Seorang warga negara Indonesia, Minhati Madrais, ditangkap pada Minggu (5/11) di 8017 Steele Makers Village, Tubod Iligan City, Filipina. Penangkapan ini dilakukan oleh Tim Gabungan Armed Forces of the Philippines (AFP) dan Philippine National Police (PNP) dari ICPO, MIB, ISG, dan CIDT-Lanao.

Minhati ditangkap beserta enam anaknya, yakni 4 putri dan 2 putra.

Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Rikwanto mengatakan, polisi mengamankan empat pin detonator, dua kabel detonator, dan jam khusus saat menangkap Minhati. Paspor Minhati yang telah kadaluarsa pada September 2016 turut disita dalam penangkapan itu.

“Saat ini Minhati bersama anaknya berada di kantor polisi Iligan City untuk menjalani pemeriksaan,” ujar Rikwanto dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan sudah mendapat kabar tentang penangkapan Minhati dari Konsulat Jenderal RI di Davao. Hingga kini mereka masih menunggu pemberitahuan dari aparat Filipina kapan bisa menemui Minhati.

“Kita menunggu notifikasi dan akses konsuler untuk bisa mengkonfirmasi kewarganegaraan yang bersangkutan. Kita minta akses konsuler secepatnya,” kata Juru Bicara Kemenlu RI, Armanatha Nasir, kepada merdeka.com.

Catatan kepolisian RI, Minhati adalah WNI asal Bekasi, Jawa Barat. Berdasarkan catatan imigrasi Filipina, Minhati tiba di Manila Tahun 2015 dengan paspor Nomor A 2093379.

Minhati ke Filipina menyusul suaminya Omar Khayam Maute, yang tak lain petinggi ISIS negara tersebut. Soal Minhati merupakan istri Omar Khayam sebelumnya dibenarkan sang ayah, KH Madrais Hajar.

Dia mengatakan, putrinya dan Oman menikah di Mesir ketika masih sama-sama menjadi pelajar di sebuah perguruan tinggi pada 2008. Minhati mengambil jurusan Syariah, sementara Omar jurusan tafsir.

“Saya datang ke sana sebagai wali, setahun kemudian lulus, baru pulang ke sini,” kata KH Madrais, beberapa waktu lalu.

Menurut Madrais, Omar dan Minhati hanya dua tahun tinggal di Bekasi. Selama itu, Madrais meminta keduanya menjadi pendidik karena sudah menempuh ilmu ke Mesir.

Omar kemudian menjadi pengajar di pesantren daerah Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi selama dua tahun. Tak lebih dari dua tahun, Omar mengajak istrinya pulang ke Filipina.

“Itu keinginan saya (menjadi pendidik) supaya dia itu ngajar di sini, kita punya lembaga pendidikan,” kata dia.

Dia mengaku tak mengetahui motif di balik Omar pulang hingga membawa anaknya. Namun diduga karena Omar tak sepaham dengan keinginan keluarga istrinya yang memintanya menjadi pendidik.

“Selama dua tahun dirasakan kurang kerasan barang kali, itu hak dia (Omar) bawa istri, orang tua enggak bisa (menahan),” kata dia.

Sejak saat itu, Madrais sudah tak lagi menjalin komunikasi dengan menantunya. Hingga akhirnya ia mendapat kabar bahwa menantunya merupakan salah satu pimpinan kelompok Maute dan berafiliasi dengan ISIS yang menyerang Kota Marawi.

Madrais terkejut ketika mendapatkan informasi bahwa Maute terlibat dalam invasi Kota Marawi di Filipina, beberapa waktu lalu itu. Omar, tewas dalam operasi militer Filipina, itu.

[gil]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge