0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pasar Karetan Hadirkan Suasana Pedesaan

(foto: ist)

Timlo.net – Kolaborasi unik antara nitizen yang tergabung dalam komunitas Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Jateng dengan masyarakat lokal menciptakan atraksi Pasar Karetan di Radja Pendapa Desa Segrumung, Meteseh, Boja Kendal, Minggu (5/11).

Pasar Karetan dikonsep menyajikan khas suasana pedesaan, komplit dengan aneka kuliner, dolanan bocah, dan seni tradisi khas pedesaan. Namun, dikolaborasi dengan dekorasi lifestyle kekinian serba go green atau ramah lingkungan.

“Ini luar biasa, di tengah hutan karet ada atraksi nyata orang jualan, berinteraksi, ada kuliner khas, bisa belajar, masyarakat disini juga terlibat. Ini akan meningkatkan potensi ekonomi warga,” kata Mirna Annisa, Bupati Kendal yang datang di acara tersebut.

Mirna ingin, Radja Pendapa Camp Boja yang termasuk daerah pinggiran berbatasan dengan Kota Semarang, masih bisa dilirik oleh para wisatawan. Pasar Karetan menurutnya sangat pas digelar untuk menunjukan suasana pedesaan yang dikemas dengan para nitizen guna mengenalkan lebih luas.

“Nitizen ini yang mengkolaborasikan, seperti kuliner, tempatnya, dekorasinya semua sangat menjual di medsos, kita lihat para pendatang asyik ber-selfie ditiap sudut Radja Pendapa,” ujarnya.

Sementara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Nusantara Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuty menyampaikan, kolaborasi masyarakat sekitar dengan anak muda jaman serba digital menciptakan atraksi nuansa back to nature. Ada alam, budaya, dan buatan menjadi satu utuh atraksi.

“Kemenpar sangat mendukung karena ini daya tarik, ini bagian dari pemasaran kami. Kalau dilihat marketnya ini cocok untuk nusantara dan ASEAN yang direct dari solo dan Jogja. Bahkan wisman Singapura pasti akan terkagum, yang biasa disuguhi gedung tinggi, kini ada suasana back to nature yang benar-benar hidup aktifitasnya,” katanya.

Esthy melihat, partisipasi masyarakat lokal ada kuliner tradisional, membatik, membuat payung hias, mendekor, sampai anak-anak diikutkan permainan tradisional akan memberikan pengalaman berbeda saat berkunjung kesini.

“Masyarakat tinggal diajari hospitality, terima tamu, kebersihan, dan jaga lingkungan. Konsep back to nature ini harus dibangun ramah dan buat tamu menarik,” katanya.

Pemilik Radja Pendapa Camp, Don Kardono menambahkan, back to nature membawa para pengunjung layaknya menyatu dengan alam. Sebelum pengunjung menginjakan kaki di lahan sekitar enam hektar ini, area parkir kendaraan ada di sebuah lapangan yang berjarak sekitar 500 meter dari Pasar Karetan. Pengunjung difasilitasi kendaraan khas wisata pedesaan odong-odong untuk penjemputan, lalu masuk area gratis.

“Rupiah, dollar, poundsterling disini tak laku. Ada money changer untuk menukar uang dengan koin kayu khusus pembayaran mulai senilai Rp.2.500, 5.000, dan 10.000, koin ini untuk transaksi pembelian Pasar Karetan,” terangnya.

Go green juga menerapkan manajemen sampah, tiap stan kuliner akan disuguhi pengganti alat makan, untuk meminimalisasi penggunaan plastik, gelas kaca, sterefoam, dan diganti dengan bahan ramah lingkungan sepeti gelas nambah, mangkuk batok, piring rotan, daun, dan poci tanah liat.

foto: ist

“Spot disini juga sangat Instagramable, tiap sudut diberi dekorasi yang unik, petugas memakai pakaian tradisional, lapak dibuat pakai kayu, banyak dolanan anak, seni reog, artistik payung disana-sini, dan tentunya treking alam pohon karet dan persawahan sangat memanjakan mata,” paparnya.

Melihat antusias ribuan masyarakat yang memadati, pihaknya akan menggelar rutin Pasar Karetan seminggu sekali, bahwa konsep online yang telah digagas Genpi Jateng mampu bertemu dengan lini offline yang menarik dan nyata.

“Kolaborasi antara kekuatan online dan offline, saya menyebutnya digital sosiopreneeship, jadi masyarakat lokal juga kita ajari seperti apa sih membuat standar produk kuliner, cara penyajian, dan kemasan, agar tetap menyatu dengan alam,” pungkasnya. (*)

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge