0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Puncak Tradisi Yaqowiyu ‘Kembali Murni’ Tanpa Sebar Uang

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Plt Bupati Klaten Sri Mulyani dalam puncak sebaran apem Yaqowiyu di Jatinom (istimewa)

Klaten — Ribuan kue apem disebar dalam puncak perayaan  tradisi Yaqowiyu di Oro Oro Tarwiyah, kompleks makam Ki Ageng Gribig, Jatinom, Jumat (3/11). Hal itu sebagai penanda berakhirnya rangkaian tradisi turun temurun mengenang jasa tokoh penyebar agama Islam, Ki Ageng Gribig, selama sepekan, Kamis – Jumat (25/10- 3/11).

“Selama satu minggu perayaan tradisi ini berlangsung, partisipasi masyarakat sangat bagus. Semua potensi kesenian ditampilkan. Dan puncaknya hari ini,  sekitar 4,5 ton lebih kue apem disebar,” ujar Kepala Dinas kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Klaten, Jaka Wiyono, Jumat (3/11).

Diceritakan, tradisi sebar apem terinspirasi oleh Ki Ageng Gribig, ulama zaman Mataram Islam. Ketika itu sang kyai baru saja pulang dari tanah suci, dan membawa oleh-oleh berupa air zam-zam, tanah dari proses wuquf dan kue khas Arab.

“Pulang dari Mekah, Ki Ageng Gibrik membagikan kue berbentuk seperti apem namun besar bentuknya kepada para santrinya. Akan tetapi karena kurang, ia menyuruh istrinya, Nyi Ageng untuk membuat replika kue tersebut dengan bentuk yang lebih kecil,” ceritanya tentang kue yang dinamai Apem Yaqowiyu ini.

Selain apem memiliki makna ampunan atau maaf, lanjut dia, Yaa Qawiyyu mengandung makna agar Tuhan yang Maha Kuat memberikan kekuatan dan rezeki kepada muslimin serta mukminin.

Dari pantauan, perayaan Yaqowiyu yang kali ini dihadiri oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Plt Bupati Klaten Sri Mulyani ini tidak lagi diwarnai dengan aksi penyebaran uang seperti dua tahun penyelenggaraan sebelumnya.

Pada 28 November 2015 lalu, Bupati Klaten Sunarna dan Wakil Bupati Klaten Sri Hartini membikin heboh dengan menyebarkan sejumlah uang nominal Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu. Setahun kemudian, saat Sri Hartini ‘naik pangkat’ menjadi bupati, kembali menyebar sejumlah uang nominal serupa saat puncak acara Yaqowiyu pada 18 November 2016.

“Lebih baik ya seperti ini. Murni menyebarkan apem. Enggak usah ditambahi sebar uang segala. Karena kalau sudah jadi tradisi, orang yang datang Yaqowiyu itu motivasinya justru berebut mendapatkan uang,” ujar Dinda (31), warga Delanggu yang tak pernah melewatkan tradisi sebaran apem Yaqowiyu.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge