0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tak Mau Digantung, Relokasi Pindah ke Sukoharjo dan Boyolali

Kepala dinas perumahan kawasan permukiman dan pertanahan (Disperum-KPP) Solo, Agus Joko Witiarso (timlo.net/ichsan rosyid)

Solo – Relokasi 195 hunian di Nusukan yang terdampak pembangunan Embung Karet Tirtonadi ke Jeruk Sawit, Karanganyar dipastikan batal. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian dari pihak Pemerintah Kabupaten Karanganyar terkait perijinan pembangunan kompleks perumahan warga relokasi. Di lain pihak, Kelompok Kerja (Pokja) relokasi Kelurahan Nusukan dituntut untuk menyelesaikan laporan pertanggungjawaban tahun 2017 berakhir.

“Pertemuan kita dulu kan akhirnya macet. Dan sampai sekarang tidak ada komunikasi lagi dengan Karanganyar,” kata Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperum-KPP) Pemerintah Kota Solo, Agus Joko Witiarso saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (1/11).

Pertemuan yang dimaksud Agus merujuk pada audiensi antara Pemkab Karanganyar dengan Pemkot Solo di Manganti Praja 21 September lalu. Pada pertemuan itu dua Pemerintah Daerah yang bertetangga itu menyamakan persepsi antara Pemkot Solo dengan Pemkab Karanganyar terkait Perda Karanganyar No 13 tahun 2013.  Dalam Perda itu diatur luas hunian untuk perumahan sederhana minimal 60 meter persegi. Sedangkan anggaran yang diberikan Pemkot kepada penerima bantuan hanya cukup untuk membangun rumah seluas 40 meter persegi.

Saat itu, Asisten Pemerintahan Setda Kabupaten Karanganyar, Bachtiar S mengatakan akan ada pertemuan-pertemuan lanjutan untuk menyelesaikan masalah tersebut.  Namun menurut Agus, hingga saat ini belum ada pembahasan lanjutan yang berarti antara kedua pihak.

“Saya berusaha menghubungi Sekda Karanganyar tidak pernah direspon,” akunya.

Tak mau larut dalam ketidakpastian, Pemkot pun mengembalikan masalah kepada Pokja. Akhirnya, Pokja memilih untuk mencari tempat relokasi alternatif mengingat 31 Desember, batas akhir penggunaan anggaran, kian dekat. Pokja pun menawarkan agar setiap Kepala Keluarga (KK) mencari sendiri lokasi yang sesuai keinginan mereka. Hasilnya, mayoritas warga Nusukan memilih pindah ke daerah Polokarto, Sukoharjo. Sebagian mendapat bidang tanah kosong di Boyolali.

“Akhirnya jadi sendiri-sendiri. Tidak satu kompleks seperti rencana awal,” kata Wakil Ketua Pokja Relokasi Kelurahan Nusukan, Trihono.

Langkah Pokja menyerahkan pencarian tanah untuk membangun rumah baru ini terpaksa diambil lantaran Pokja sendiri kesulitan mencari bidang tanah yang cukup luas untuk menampung ratusan hunian. Selain itu, dengan memecah-mecah hunian ke banyak tempat, Pokja bisa menghindari kerumitan yang mungkin timbul karena perbedaan regulasi di masing-masing daerah.

“Kalau cuma satu dua rumah kan tidak bisa dikenai perda tentang perumahan,” kata dia.

Dengan waktu yang semakin mepet, Pokja pun harus bergerak cepat. Mereka hanya memiliki waktu kurang dari dua bulan untuk menghabiskan dana bantuan dari Pemkot sebesar Rp 34,3 Juta per hunian untuk membeli tanah dan membangun rumah. Laporan pemanfaatan dana bantuan harus diserahkan ke Pemkot sebelum 31 Desember tahun ini.

“Kita sudah koordinasi dengan Pemkot (soal perubahan tempat relokasi dari Karanganyar ke Sukoharjo dan Boyolali). Pemkot siap memfasilitasi,” kata dia.

Agus Djoko Witiarso mengamini pernyataan Trihono tersebut. Ia mengatakan berkas-berkas pengajuan pembangunan hunian relokasi sudah disampaikan kepada Pemkab Sukoharjo dan Boyolali. Ia sendiri berharap relokasi bisa berjalan cepat. Pemkot menargetkan program relokasi bantaran Kali Pepe, termasuk hunian terdampak pembangunan embung karet Tirtonadi, rampung tahun ini.

“Tahun depan sudah tidak dianggarkan lagi. Tahun ini harus selesai. Makanya ini kita fasilitasi biar lancar. Berkas-berkasnya sudah sampai ke meja bupati (Sukoharjo dan Boyolali),” kata dia.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge