0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Penelitian Ungkap Bahaya Transfusi Darah Antara Pria dan Wanita

Tabung. (Dok: Timlo.net/ Nextshark. )

Timlo.net—Selama ini, gender pendonor darah dianggap tidak relevan saat memberikan transfusi darah. Tapi sebuah penelitian baru menyatakan jika transfusi darah yang diberikan kepada pria dari pendonor wanita hamil bisa meningkatkan resiko kematian pada tahun-tahun berikutnya.

Penelitian itu diadakan oleh sekelompok peneliti dari Belanda. Mereka mengamati data 31.118 pasien yang menerima transfusi darah. Data transfusi darah itu dipecah menjadi beberapa bagian. Berdasarkan gender pendonor bahkan jika pendonor wanita pernah hamil. Tingkat kematian selama periode tindak lanjut selama tiga tahun dikatakan konsisten dari data. Tapi ada sebuah pengecualian.

Resiko kematian pria yang menerima transfusi darah dari wanita yang pernah hamil naik 1,5 kali. Hal ini bila dibandingkan dengan donor dari wanita yang belum pernah hamil atau pria. Uniknya, hal ini hanya dialami pria di bawah 50 tahun. Sepertinya pria di atas 50 tahun kebal terhadap resiko ini, tulis Newatlas.com.

Studi ini dianggap provokatif dan kontroversial. Para peneliti menekankan jika penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab fenomena aneh ini. Berbagai penelitian beberapa tahun ini menghasilkan data yang saling berlawanan terkait resiko donor darah antar gender. Gustaf Edgren, peneliti yang menulis editorial untuk penelitian baru ini, sebelumnya pernah melakukan penelitian serupa. Dia melakukan penelitian berskala besar untuk mengetahui resiko donor darah berdasarkan faktor usia dan jenis kelamin.

Gustaf menyimpulkan jika usia atau jenis kelamin tidak relevan dalam tingkat kematian setelah transfusi darah. Dia mengakui penelitian baru ini memiliki dampak medis yang besar. “Jika hasil yang dilaporkan oleh Caram-Deelder et al terkonfirmasi, penemuan ini memiliki dampak besar terhadap manajemen transfusi darah oleh bank darah dan dokter,” tulisnya.

Henrik Bjursten, peneliti lain yang bekerja di bidang yang sama, menerbitkan penelitian sejenis. Dia meneliti 10 ribu pasien pada 2016 dan menyimpulkan jika donor darah antara orang berbeda jenis kelamin bisa meningkatkan resiko kematian. Sekalipun kurang bukti yang komprehensif, Henrik menyarankan jika transfusi darah harus disesuaikan berdasarkan jenis kelamin.

“Pendapat pribadi saya ya…saya menyarankan donor darah dari jenis kelamin yang sama,” ujar Henrik dalam wawancara baru-baru ini dengan Scientific American.

“Ada jutaan nyawa yang dipertaruhkan di sini. Apakah kita ingin mengambil resiko itu atau kita ingin mengambil jalur yang aman dan mencoba menghindari kerusakan?” tanyanya.

Penelitian terbaru ini adalah yang pertama yang menguji relevansi sejarah kehamilan pendonor wanita. Selain itu, studi itu menanyakan penyebab fenomena aneh yang meningkatkan resiko kematian itu.  Para peneliti berspekulasi jika pembentukan antibodi tertentu yang terjadi saat kehamilan yang memicu peningkatan mortalitas pada pria yang menerima transfusi darah. Penelitian itu diterbitkan dalam jurnal JAMA.

 

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge