0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dugaan Penipuan WNA Korea

Antonius: Saya Ini Korban, kok Malah Diperkarakan

Bos real estate Solo, Antonius Hendro Prasetyo menunjukkan surat perjanjian jual beli pihak pengembang apartemen M-Icon  (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Kasus dugaan penipuan terhadap enam warga negara asing (WNA) asal Korea yang menjerat bos real estate Solo, Antonius Hendro Prasetyo dinilai terlalu dipaksakan. Pasalnya, terdakwa dalam kasus tersebut juga sebagai korban yang turut menyetor kepada pihak pengembang apartemen M-Icon di Sinduharjo, Sleman, Yogyakarta.

“Saya ini juga korban. Kerabat, rekan bahkan saya sendiri juga mengalami total kerugian Rp 1,9 miliar karena telah menyetor uang ke pengembang apartemen M-Icon. Kok malah saya yang diperkarakan membawa uang senilai Rp 1,8 miliar milik Yun Tae Kim (Mr Kim) dan rekan-rekannya. Uang dari enam warga Korea tersebut sudah saya setorkan juga ke pihak M-Icon. Saya punya bukti setorannya,” terang Antonius Hendro Prasetyo kepada wartawan, Rabu (18/10).

Menurut Antonius, dirinya sama sekali tidak pernah membujuk Kim untuk turut membeli apartemen tersebut. Akan tetapi, justru Kim sendirilah yang tertarik dan datang kepada dirinya untuk mendapatkan harga murah penjualan unit apartemen. Jika melalui sales marketing, Kim mendapatkan harga senilai Rp 660 juta. Sedangkan, jika melalui Antonius, Kim mampu memperoleh harga apartemen senilai Rp 481 jutan.

Di sisi lain, kata Antonius, upaya yang dilakukan Kim juga untuk memperoleh keuntungan pribadi dari hasil mengumpulkan rekan-rekannya warga Korea dalam pembelian apartemen M-Icon.

“Posisi saya ini broker (makelar), saya tidak termasuk dalam struktur M-Icon tersebut. Kok saya malah yang diperkarakan. Lha saya ini juga korban,” tegas Antonius.

Terkait kasus tersebut, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah Cabang Solo ini mengaku memiliki bukti kuat ketidakterlibatan dirinya dalam kasus dugaan penipuan enam warga Korea itu. Salah satu bukti tersebut adalah kwitansi pembayaran uang dari enam warga Korea dengan total Rp 1,8 miliar yang telah ditransferkan kepada pihak pengembang apartemen.

“Termasuk, bukti PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli) yang telah dilakukan oleh pihak Kim dengan pengembang apartemen tersebut,” ungkap Antonius.

Terpisah, kuasa hukum Yun Tae Kim, Zaenal Mustofa saat dikonfirmasi membenarkan telah terjadi transaksi pembelian apartemen dengan diatasnamakan anaknya, bernama Nurintan dan pengembang M-Icon. Menurutnya, hal tersebut wajar lantaran Kim tidak memiliki kewarganegaan Indonesia.

“Klien saya membeli atas nama anaknya. Itu wajar, karena dia (Kim-red) tidak memiliki kewarganegaan Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, Kim melalui kuasa hukumnya, Zaenal Mustafa mengaku, ditipu oleh pengusaha real estate asal Solo, Antonius Hendro Prasetyo. Peristiwa yang terjadi di tahun 2015 tersebut, saat ini sedang dalam proses sidang di Pengadilan Negeri (PN) Solo.

Peristiwa bermula, saat Yun Tae Kim atau biasa dikenal dengan Kim tertarik membeli dengan apartemen yang ditawarkan oleh M-Icon dalam sebuah pameran real estate di Solo Paragon Mall pada 2015 silam. Waktu itu, Kim tertarik dengan sebuah apartemen yang berada di Kawasan Sinduharjo, Sleman, Yogyakarta.

Akan tetapi, harga yang ditawarkan cukup tinggi yakni mencapai Rp 600 juta. Kim mencari cara untuk mendapatkan harga termurah, hingga akhirnya mendatangi Antonius. Saat itulah, Kim meminta untuk dibantu mendapatkan harga murah senilai Rp 481 juta. Setelah mendapatkan harga tersebut, Kim mengajak lima rekannya untuk ikut membeli apartemen M-Icon di Yogyakarta dengan harga yang telah disepakati tersebut. Meski telah menyetorkan sejumlah uang, apartemen M-Icon yang telah dipasarkan itu tidak segera terealisasi. Sehingga, mencuatlah kasus tersebut.

 

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge