0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Diduga Dianiaya Polisi, Seorang ABG Meninggal

Orang tua Syahrul (merdeka.com)

Timlo.net — Syahrul (15), warga Jalan Bontoduri V, RT 002, RW 010 Kecamatan Tamalate, Makassar meninggal dunia di Rumah Sakit Bhayangkara, Rabu (27/9). Sebelumnya, pelajar kelas I SMKN 2 Makassar ini menderita sakit bengkak di paha kiri dan bagian dalam dekat buah zakar. Sehari sebelum meninggal dunia, Syahrul menyampaikan ke Mantasiah, ibunya kalau dia habis ditendang polisi.

Kini, Basineng (47) dan Mantasiah mempertanyakan perihal kematian putra keduanya itu ke Polrestabes Makassar, Minggu (8/10) dan Rabu (11/10).

Basineng, yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang becak motor saat ditemui di rumahnya mengaku baru berani mengungkap kejanggalan kematian putranya, setelah beberapa warga termasuk rekan sebaya putranya itu menyampaikan kejadian di malam sebelum putranya jatuh sakit.

Kata Basineng, rekan main anaknya bernama Enal menyampaikan kalau di malam 13 September lalu Syahrul dan Enal main gitar di Jalan Toddopuli VI. Sekira pukul 22.00 WITA, tiba-tiba ada pria berseragam polisi datang dan menggeledah. Di saku celana Syahrul ditemukan lem.

“Polisi itu kemudian menanyakan alamat rumah dan anak saya menjawabnya berubah-ubah sampai tiga kali. Mungkin karena jengkel, polisi itu kemudian menendang bagian paha kiri anak saya. Enal sempat melihat Syahrul ditendang, tapi tidak lama karena dia dipanggil oleh ibunya untuk segera masuk rumah,” kata Basineng, Jumat (13/10).

Tetapi yang menyaksikan anaknya dianiaya itu bukan hanya Enal. Ada sejumlah warga lain karena saat kejadian malam itu belum begitu larut. Warga lain menyebutkan kalau anaknya berkali-kali ditendang sampai terjatuh, dibantu seorang anggota Banpol (Bantuan Polisi) yang dikenal di lingkungan rumah.

“Saat anak saya terjatuh, anak saya ditekan lagi pakai lutut. Begitu kata warga,” ujar Basineng.

Ditambahkan, yang dia tahu adalah Syahrul dibawa pulang ke rumah oleh polisi itu mengaku anggota Bhabinkamtibmas untuk wilayah Bontoduri. Dari papan namanya tertulis nama Mulyadi. Polisi itu menyampaikan akan membawa Syahrul ke Polsek Tamalate karena kedapatan bawa lem.

Tapi Basineng memohon agar putranya tidak dibawa ke kantor polisi dengan janji akan mengajari anaknya lebih baik lagi. Syahrul akhirnya tidak jadi digelandang ke Mapolsek Tamalate.

Mantasia menambahkan, putranya tidak pernah cerita kalau malam itu dia dipukuli. Keesokan harinya masih ke sekolah meski tubuhnya demam tinggi.

“Beberapa hari Syahrul masih ke sekolah tapi akhirnya kami bawa ke Puskesmas Jongayya untuk berobat tanggal 22 September. Karena kian parah demamnya dan paha kirinya bengkak, teramat perih dirasa meski hanya disentuh, akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara tanggal 23 September. Pada tanggal 26 September di rumah sakit, Syahrul baru mengaku kalau malam kejadian dia ditendang sama polisi itu di bagian pahanya. Besoknya tanggal 27 September, Syahrul meninggal dunia,” beber Mantasia.

Pasangan suami istri yang terbilang lugu ini mengaku tidak pernah disampaikan oleh dokter, dan juga tidak pernah berinisiatif untuk menanyakan putranya sakit apa.

Karena yakin Syahrul meninggal tidak wajar, Basineng kemudian melapor ke Polrestabes Makassar pertengahan Oktober lalu dengan membawa foto-foto anaknya dengan kondisi paha bengkak.

“Tapi polisi minta saya untuk mencari saksi-saksi dulu baru datang kembali lengkapi laporan,” tutur Basineng sembari menyampaikan harapannya agar ada pengacara yang bisa membantunya mencari keadilan.

Sementara itu, Perwira Unit (Panit) II Reskrim Polsek Tamalate, Iptu Sugiman yang dikonfirmasi membenarkan ada anggotanya bernama Brigpol Mulyadi bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di daerah Jalan Bontoduri.

“Coba saya cek dulu tentang kebenarannya karena saya sendiri baru dengar ini,” ujar Iptu Sugiman saat dikonfirmasi mengenai dugaan penganiayaan tersebut.

[cob]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge