0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tradisi Buka Luwur Pantaran, Ribuan Warga Padati Makam

Warga ngalap berkah dalam tradisi Buka Luwur di Makam Syech Maulana Ibrahim Magribi, tokoh penyebar agama islam di Lereng Merbabu (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Ribuan warga dari berbagai wilayah tumplek blek di Makam Syeh Maulana Ibrahim Magribi, Pantaran, Desa Candisari, Ampel, Jumat (13/10). Mereka hendak ngalap berkah dari tradisi Buka Luwur atau mengganti kain penutup makam Syeh Maulana yang dikenal warga sebagai tokoh penyebar agama Islam di Lereng Gunung Merbabu.

“Buka luwur digelar tiap Jumat terakhir di bulan Suro,” kata Juru Kunci Makam Pantaran, Sunyoto.

Dalam tradisi ini, dijelaskan Sunyoto, dilakukan penggantian lurup atau kain penutup makam. Ada lima makam yang diganti lurupnya, yaitu makam Syech Maulana Ibrahim Magribi, Dewi Nawangwulan, Ki Ageng Pantaran, Ki Ageng Mataram dan Kebo Kanigoro.

“Kain lurup bekas nantinya akan dibagikan kepada pengunjung,” tambahnya.

Syech Maulana Ibrahim Magribi, pendatang dari Persia, datang ke wilayah Lereng Merbabu untuk menyiarkan agama Islam. Agama Islam pun berkembang pesat dan pengikutnya banyak. Karena penganutnya banyak, Syech Maulana Ibrahim Maghribi ingin mendirikan masjid. Dia mengutus muridnya untuk pergi ke demak bintoro, meminta bantuan kayu sebagai soko guru masjid.

“Tapi keinginan tersebut tidak mendapat ijin dari Demak, akhirnya Syeh membuat masjid sendiri dibantu pengikutnya,” tambah Sunyoto.

Masjid yang dibangun hingga saat ini masih berdiri di tengah kampung Dukuh Pantaran, Desa Candisari, Ampel. Masjid tersebut diberi nama Pantaran.

“Nama Pantaran ini akhirnya menjadi nama dusun,” imbuhnya.

Sementara itu di areal makam, puluhan warga Pantaran berkumpul membawa tenong yang berisi makanan. Seperti nasi, ingkung ayam dan makanan ringan. Usai didoakan, makanan yang dibawa warga Pantaran dibagikan ke pengunjung.

“Ini sebagai sodaqoh, wujud syukur,“ kata Sumanto, warga Pantaran.

Bahkan, bagi Sumanto, tradisi ini menjadi kebanggaan tersendiri. Selain bisa berbagi dengan pengunjung, yang notebene berasal dari berbagai wilayah, sekaligus sebagai ungkapan syukur kepada Illahi.

“Inilah identitas kami sebagai warga Pantaran, walaupun terkesan kuno,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge